Rabu, 20 Maret 2013

Potong “Burung” Sumber Masalah

Potong “Burung” Sumber Masalah
SUAMI  poligami, inti masalah- nya karena “si burung” tak pernah puas. Ny. Daryati, 35, yang menderita gara-gara suami poligami, menyelesai-kannya dengan cara memotong “burung” suaminya. Untung sebelum amputasi itu berhasil, Yunus, 37, terbangun dan gegerlah warga Muara Enim (Sumsel).

Tengoklah lakon yang dijalani Yunus warga Desa Tanjung Tiga, Kecamatan Lembak, Kabupaten Muara Enim. Nafsu poligaminya demikian kuat, tapi tak didukung oleh kemampuan ekonomi yang mapan. Akibatnya rumahtangga dengan dua dapur itu tak pernah bahagia sejahtera. Terlalu lama di rumah bini muda, istri tua ngambek. Tapi betah banget  di rumah bini tua,  bini muda juga mencak-mencak.

Idealnya, dengan bini dua Yunus sebagai suami harus bisa membagi adil soal materil dan onderdil. Tiga hari di rumah bini tua, tiga hari pula di rumah bini muda. Lho, seminggu kan ada 7 hari, lalu yang sehari buat apaan? “Ibarat kapal ya untuk doking lah, masak 7 hari mau berlayar terus?,” kata si pemberi nasihat. Memang, gara-gara poligami itu Yunus jadi banyak curhat pada teman-temannya. Tapi tak ada yang bisa memberi solusi jitu.

Awalnya, rumahtangga Yunus dengan Daryati bahagia nan sejahtera. Tapi begitu melihat barang baru yang lebih bagus, Yunus terpikat juga. Walhasil gadis Linda, 28, dinikahi juga secara diam-diam. Sebulan dua bulan aman-aman saja politik poligami Yunus. Tapi begitu ketahuan, ngamuklah Daryati. Untung Yunus mampu berjanji bahwa akan adil pada kedua istrinya.

Tapi ternyata itu semua hanya teori. Permulaaannya Yunus memang bisa tertib tiga hari di bini muda dan tiga hari di bini tua. Soal waktu, karena tak perlu beli, masih bisa diatur. Tapi yang namanya duit, Yunus sungguh kedodoran. Penghasilannya yang tak seberapa besar, harus dibagi sama. Bini tua yang sudah punya sejumlah anak, tentu saja anggaran lebih besar. Ini jadi pangkal masalah. “Ekonomi jadi compang-camping, karena kamu kawin lagi,” omel istri berulang kali.

Ingin ketenangan karena diomeli melulu oleh istri tua, menjadikan Yunus lebih betah “ngungsi” di rumah bini muda kawasan Simpang Meranjat Kabupaten Ogan Ilir.

Tapi ini juga bikin murka Daryati. Maka saat suami kembali ke rumah untuk menggilir dirinya, dijadikanlah Yunus bak tahanan KPK. Dia tak boleh ke mana-mana. Ibarat kata, dia dikurung dalam sangkar bak nyanyian May Sumarno tahun 1970-an. “Wahai kau burung dalam sangkar, nasibmu malang benar…..”

Karantina model Daryati membuat Yunus tersiksa. Tapi ketika dia mau pergi diam-diam, eh ketahuan juga. Untuk menghibur diri, suami malang yang dibikin sendiri itu memilih tidur. Padahal dari sinilah malapetaka itu justru hadir. Soalnya, Daryati yang merasa tak bahagia hidupnya gara-gara “burung” suami yang diumbar ke mana-mana, bermaksud memutus mata rantai penderitaan itu dengan caranya sendiri.

Apa yang diperbuat Daryati? Begitu suami tidur pulas dengan posisi telentang, langsung saja dia ambil pisau dapur. “Burung” kakak tua yang suka hinggap di jendela mana saja tersebut lalu dirogoh dan dipotong. Tapi belum tuntas maksudnya, Yunus teriak kesakitan. Daryati kabur, sementara para tetangga segera membawa Yunus ke RSUD Prabumulih. Beruntung si burung masih bisa diselamatkan dengan sejumlah jahitan.

Harus bisa “berkicau” lagi tuh burung! (JPNN/Gunarso TS)


Source : POSKOTAnews.com

============================

Produk CNI adalah “Produk Kualitas Menengah Atas, Harga Menengah Bawah”    

Untuk info & Pemesanan :  
HUB : MUHAMAD IPANGO  
Telp / Hp : 021-7816369 / 0815 2363 9145 / 0816 160 5367


  Kunjungi kami di :
TOKO SEHAT ONLINE

Sabtu, 16 Maret 2013

Derita Punya Suami Pemabokan

Derita Punya Suami Pemabokan
SUDAH  selingkuh, mabukan lagi! Itulah kelakuan buruk Parkun, 27 (bukan nama sebenarnya), warga Mojokerto (Jatim). Punya suami macam begitu, tentu saja Muryati, 24 (bukan nama sebenarnya), bosan. Celakanya, mau minta cerai malah disambut dengan gebuk. Daripada “makan hati”, dia pilih minum cairan pengepel lantai. Untung nyawa Muryati masih peret!

Kaum wanita sebenarnya makhluk yang tahan menderita daripada lelaki. Biar suami jelek kayak mercon bantingan pun, takkan menyesal asalkan setia dan sayang keluarga. Tapi jika suaminya sudah jelek, pengkhianat cinta, tukang mabuk pula, bagaimana istri bisa betah bersamanya? Kalau bisa ditukar dengan abu gosok untuk cuci piring, pasti suami macam begitu sudah lama ditukarkannya.

Beginilah nasib Muryati, warga Desa Gayaman Kecamatan Mojoanyar Mojokerto. Berumahtangga dengan Parkun sejak 3 tahun lalu, tak pernah menikmati kebahagiaan rumahtangga barang semenit. Bawaannya harus marah melulu. Bagaimana tidak marah? Parkun ini jadi kepala rumahtangga tapi tanggungjawabnya nol. Cari kerja yang benar tidak bisa, tapi kerjanya minum bir sampai mabuk. Sudah begitu, doyan perempuan pula!

Kadang Muryati merasa, jadi istri Parkun hanya menjadi obyek seksualitas belaka. Kalau sedang butuh, mendekati dan merayu-rayu. Tapi setelah dilayani, langsung pergi mabuk-mabukan bersama teman. Yang paling menyakitkan, berulang kali masuk laporan bahwa Parkun di luar juga punya WIL. “Laki-laki memang anjing ibaratnya. Di rumah sudah diberi korned, ketemu kotoran dimakan juga….,” begitu Muryati pernah mengeluh.

Muryati berulangkali mencoba klarifikasi, siapa saja wanita yang digendaknya. Tapi boro-boro Parkun mengaku, justru tendangan dan tempelengannya yang bicara. Dia merasa tersinggung, karena kebebasannya sebagai lelaki diintervensi pihak lain. Katanya, perempuan tahu apa. Ibarat kata, biarkan isi botol diecer ke mana-mana, yang penting “gendul”-nya tetap kembali ke rumah secara utuh.

Jelas ini prinsip yang berlawanan dengan prinsip-prinsi keluarga sakinah yang mawadah wa rahmah. Sudah berulangkali Muryati memberikan opsi, daripada menyiksa badan, mendingan diceraikan saja. “Aku pegaten wae mas, mumpung isih padha wutuhe (ceraikan saja aku, mumpung belum punya anak ini),” kata Muryati memohon.

Namun Parkun tak pernah peduli, kecuali menjadikannya gebuk sebagai panglima. Nah, istri cap apa yang mau dijadikan sansak tinju berkelanjutan? Lantaran segala opsinya terjadi deadlock, Muryadi menjadi frustasi dan kehilangan harapan. Entah setan mana yang memprovokasi, tahu-tahu dia minum cairan pengepel lantai, glek, glek…glekkk, dan kemudian klepek-klepek!

Untung ulah Muryati ini segera ketahuan keluarganya. Dengan mulut membusa dia dilarikan ke RSI Sakinah, Mojokerto. Berkat pertolongan yang cepat, nyawa istri Parkun ini masih bisa diselamatkan. Masa-masa kritis itu telah lewat. Khawatir kejeblos dua kali ke lobang sama sebagaimana keledai, keluarga mendukung rencana putrinya.

Mending keledai, dia tak pernah mabuk dan selingkuh macam Parkun. (LP/Gunarso TS)
Source : POSKOTAnews.com


Source : POSKOTAnews.com

============================

Produk CNI adalah “Produk Kualitas Menengah Atas, Harga Menengah Bawah”    

Untuk info & Pemesanan :  
HUB : MUHAMAD IPANGO  
Telp / Hp : 021-7816369 / 0815 2363 9145 / 0816 160 5367


  Kunjungi kami di :
TOKO SEHAT ONLINE