Selasa, 19 Februari 2013

Staf KPUD `Coblos` Bini Orang

nah-sub
SEBAGAI staf KPUD, Murdadi, 29, ikut bertanggungjawab atas sukesesnya pencoblosan dalam pemilukada di daerahnya. Tapi di kesempatan lain, ternyata dia juga sibuk sendiri “mencoblos” bini orang. Wah, demikian rusaknya oknum KPUD ini, Bupati Kudus sampai terjun langsung mendamaikan warganya yang bertikai urusan selangkangan.

Pekerjaan KPUD (Komisi Pemilihan Umum Daerah) cukup sibuk juga. Selain mengatur penyelenggaraan pemilukada di wilayah kerjanya, juga saat  berlangsung pemilu legislatif dan pemilu presiden. Dalam kurun kerja selama 5 tahun, 3 kali pesta demokrasi itu menjadi tanggungjawabnya. Namun di Kudus (Jawa Tengah), sibuk seperti apa petugas KPUD, stafnya yang bernama Murdadi masih sempat-sempatnya ngurus “pencoblosan” non bilik TPS bersama Ny. Sri Kardini, 40, yang masih jadi bini orang.

Yang lumayan menarik dan menggelitik, Murdadi ini usianya belum kepala tiga. Tetapi kok mau-maunya punya rekanan selingkuh yang berusia 40 tahun. Atau mungkin oknum KPUD ini punya pertimbangan lain: wanita usia minimal 17 tahun sudah layak mencoblos maupun “dicoblos”. Jadi jika Sri Kardini ini baru berusia 40 tahun, ya nggak masalah. Bukankah usia maksimal untuk mencoblos dan “dicoblos” itu tak dibatasi?

Kisah perkenalan Murdadi dengan Sri Kardini memang tak ada ceritanya, apa lagi rilisnya. Yang orang tahu, belakangan oknum KPUD ini sering ditemukan jalan bareng dengan wanita warga Desa Desa Burikan, Kecamatan Mejobo Kabupaten Kudus. Awalnya warga positif thinking saja. Mungkin ini ada urusan dengan pemilukada, karena tahun 2013 mendatang KPUD harus menyiapkan pemilukada untuk memilih bupati baru.

Orang mulai curiga saat Murdadi berani mampir ke rumah Sri Kardini di kala suami tak di rumah. Warga pun bertanya-tanya, apa maksudnya ini. Apa mereka selingkuh? Tapi rasanya aneh juga, karena Ny. Sri Kardini kan 11 tahun lebih tua dari Murdadi. Namun pengamat perselingkuhan di wilayah itu lalu menganalisa. Bila merujuk teori Odifus Complex, bisa saja lelaki muda senang dengan perempuan tua. Bukankah yang lebih tua lebih berpengalaman, sehingga Capres tua pun masih laku jual.

Lama-lama warga bisa menerima “teori” itu. Sebab meski usia sudah kepala empat, Ny. Sri Kardini memang masih nampak sekel nan cemekel. Bodinya seksi, kalau dikekepi tanja tenan (asyik sekali) kata orang Yogya. Bahasanya orang sekarang, STNK (Setengah Tuwa Ning Kepenak). Kok tahu, memangnya pernah nyobain? Ya tanya kepada Murdadi-nya dong. Bukankah dia sebagai pihak pengguna perselingkuhan?

Kecurigaan warga semakin terbukti. Beberapa hari lalu, siang hari bolong Murdadi masuk ke rumah Sri Kardini di kala Warsino, 45, suaminya tak di rumah. Ketika pintu dan cendela ditutup rapat-rapat, kecurigaan pun semakin mengkristal. Saat diintip, ternyata betul! Oknum staf KPUD ini sedang menyelenggarakan “pencoblosan” dalam kamar bersama Ny. Sri Kardini. Rupanya seru sekali, karena tanpa disediakan tinta sidik jari dan juga kotak kartu suara, tetapi pencoblosan berlangsung mulus.

Tanpa menunggu “happy ending”, pasangan mesum itu langsung digerebek dan disidang kilat di balai desa. Rupanya penyelesaiannya cukup alot, sehingga Bupati Kudus H. Mustofa harus ikut turun tangan. Mengingat urusan polisi sudah cukup banyak, kasus mesum itu akhirnya diselesaikan secara damai. Murdadi yang sudah punya istri ini hanya diharuskan meneken perjanjian bahwa tidak akan mengulangi perbuatannya. Bagaimana dengan Warsino suami Sri Kardini?

Nerimo sajalah, toh “aset” miliknya tak sampai terlepas.
 (JPNN/Gunarso TS)

Source : POSKOTAnews.com

============================

Produk CNI adalah “Produk Kualitas Menengah Atas, Harga Menengah Bawah”    

Untuk info & Pemesanan :  
HUB : MUHAMAD IPANGO  
Telp / Hp : 021-7816369 / 0815 2363 9145 / 0816 160 5367


  Kunjungi kami di :
TOKO SEHAT ONLINE

Senin, 18 Februari 2013

Ayah Si Musang Berbulu Ayam

nah-sub
WASPADALAH pada suami sambungan, ketika di rumah masih ada anak-anak gadis. Soalnya, banyak anak tiri yang jadi korban suami “musang berbulu ayam”. Contoh terakhir Mardikin, 47, warga Malang (Jatim). Yanti, 17, sering disetubuhi sejak 2 tahun lalu, gara-gara pernah minta dimandikan ayah tiri.

Suami sambungan, sering menjadi ayah tiri bagi anak-anak si mantan janda. Banyak yang berhasil menjadi pengayom keluarga, paling tidak bisa menjaga stabilitas atau kelangsungan ekonomi. Tapi banyak juga bapak tiri yang kemudian berubah jadi “musang berbulu ayam”. Dia nampak keasliannya sebagai “musang” ketika melihat anak tiri yang ternyata lebih mulus daripada ibunya. Ini bukan ngarang, tapi sering terjadi sebagaimana Mardikin dari Malang ini.

Mardikin ini memang luwak (musang) ora kalap (tak berguna). Musang sesungguhnya masih ada nilainya, karena ketika dia makan kopi, biji-biji kopi yang bercampur dalam tinja si luwak akan menjadi mahal. Lha kalau Mardikin ini apa? Apa lagi tinjanya, kelakuannya saja ora nyegeri (tidak patut). Masak saking sayangnya pada anak tiri, Yanti yang dalam usia ABG itu dimandikannya dalam kondisi telanjang bulat. Nah, begitu kesetrom, repot deh……..

Lelaki yang tinggal di Dusun Krajan, Desa Bunut Wetan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, ini sejak 5 tahun lalu menikah dengan janda Darsini, 40. Sebagai janda STNK, ternyata dia juga membawa sejumlah anak dari hasil perkawinan sebelumnya. Karena Mardikin sudah mencintai ibunya, dia harus juga menyayangi anak-anaknya.

Salah satu anak bawaan Darsini, si Yanti manja banget pada ayah sambungan ini. Ketika sudah usia ABG pada 2 tahun lalu, soal mandi pun dia tak bisa melepas ketergantungannya pada ayah tiri. Padahal mandinya Yanti tak mau pakai basahan, tapi benar-benar toples alias telanjang bulat. Jikalau Yanti masih balita, itu no problemlah. Tapi Yanti sekarang kan sudah usia 15 tahun, sehingga bentuk tubuhnya pun mulai menjanjikan.

Nah, melihat kondisi seronok anak tirinya, apalagi saat ngosoki (membersihkan) tubuhnya pakai sabun mandi colibrita sakti, Mardikin mendadak naik spaneng begitu tangannya menyentuh gunung Kelud dan Wilis di dada sang ABG. Akhirnya Mardikin jadi lupa akan status dirinya. Dalam kondisi berdiri, Yanti dipaksa melayani kebutuhan biologisnya.

Berhasil menyetubuhi anak tirinya kali pertama, Mardikin menjadi ketagihan. Sekarang dia menjadi penganjur mandi sore hari. Dan  ketika istri tak di rumah, meski tidak dalam posisi sedang mandi, Yanti pun diajaknya bersetubuh bak suami istri. Gadis ABG ini melayani dengan terpaksa. Soalnya, bila menolak anggaran uang sekolahnya di SMA mau dibintangi alias ditunda. “Memangnya hanya DPR yang bisa mbintangi anggaran?” ancam Mardikin.

Aksi mesum ayah tiri ini berlangsung sejak tahun 2010 lalu, berarti sudah berjalan 2 tahun lamanya. Tentu saja Yanti capek dan stress dibuatnya. Beberapa hari lalu dia nekad lapor pada pamong desa. Wah, tentu saja Pak Kebayan terkaget-kaget, ada pesaing buaya darat di kampungnya. Skandal Mardikin ini dilaporkan ke Polsek Pakis, dan ayah tiri celamitan itu ditangkap. Dalam pemeriksaan dia mengakui perbuatannya. “Saya khilaf Pak, habisnya bodi Yanti bikin saya lherrrrr…..,” katanya polos.

Iman kuat ya Kin, tapi “si imin” yang nggak tahan. (DS/Gunarso TS)

Source : POSKOTAnews.com

============================

Produk CNI adalah “Produk Kualitas Menengah Atas, Harga Menengah Bawah”    

Untuk info & Pemesanan :  
HUB : MUHAMAD IPANGO  
Telp / Hp : 021-7816369 / 0815 2363 9145 / 0816 160 5367


  Kunjungi kami di :
TOKO SEHAT ONLINE

Minggu, 17 Februari 2013

Anak Hasil Kerja Outsorching

nah-sub
Di KALA lama merindukan anak, tiba-tiba mendengar istri hamil, mestinya Jawali, 45, bergembira. Tapi yang terjadi justru marah besar. Kenapa bisa begitu? Soalnya, kehamilan itu merupakan hasil kerja “outsorching”  lelaki tetangga. Maka Basori, 47, yang telah menyelingkuhi istrinya pun ditantang duel ala Madura, alias caruk!

Kelahiran anak adalah dambaan setiap rumah tangga. Tapi tak selamanya setiap keluarga memperoleh karunia itu. Sementara banyak pasangan yang sebentar-sebentar punya anak, banyak pula suami istri yang bertahun-tahun berumahtangga belum juga punya momongan. Jerih payahnya setiap malam sia-sia belaka, hanya menghasilkan capek dan kringeten thok!

Jawali warga Desa Bunajih, Kecamatan Labang, Kabupaten Bangkalan (Madura) ini termasuk lelaki yang tidak beruntung itu. Sudah 10 tahun lebih berumahtangga dengan Saminah, 35, tak kunjung punya momongan. Padahal berdasarkan pemeriksaan medis, baik shoftware maupun hardware keduanya normal-normal saja. Sebagai orang beriman, akhirnya Jawali pasrah saja. “Mungkin Allah memang belum memberi-Nya untukku,” katanya semeleh (berserah diri).

Tapi gara-gara hasilnya cuma keringatan doang, belakangan Jawali menjadi jarang menjalankan “sunah rosul”. Ibarat ladang, lahan gembur bebas gambut milik Saminah itu sudah jarang disiram dan dipakai bercocok tanam. Padahal yang namanya ladang, jarang digarap mesti saja menjadi njembrung (banyak rumput), salah-salah menjadi sarang burung.

Betul kan. Adalah Basori, lelaki tetangga yang selalu mencermati lahan Saminah yang dibiarkan terlantar. Ibarat burung gemak, dia ingin sekali bersarang  di sana. Melalui lobi dan pendekatan rahasia, ternyata Saminah bisa menyambut gembira kehadiran si “burung gemak”. Maka di kala Jawali tak di rumah, perselingkuhan antar tetangga itu terjadilah. Dan ternyata Saminah juga sangat menikmati, sehingga jadinya malah gemak lonteng-lonteng, krasa penak ndengkeng-ndengkeng.

Sekian bulan kemudian jejak burung tetangga itu mulai kelihatan, maksudnya: istri Jawali itu hamil 4 bulan. Dengan bangga nan bahagia Saminah mengabarkan kehamilan tersebut pada suami, karena sebentar lagi bakal punya momongan sebagai penerus dinasti Jawali. Namun di luar dugaan, Jawali malah marah. Soalnya dia curiga, dapat “saham” dari mana sehingga secara mendadak bininya bisa hamil? Lagi pula, ibarat tinta printer, dia juga sudah lama jarang isi ulang.

Awalnya Saminah tak mau mengaku. Tapi setelah didesak dan diancam, mengakulah dia bla bla bla….. Wah, sudah barang tentu Jawali jadi marah besar. Soalnya dia menjadi tahu bahwa selama dirinya tak di rumah, Basori sering masuk ke kamarnya untuk menyetubuhi Saminah. “Tapur kelap (sambar geledek),” makinya dalam hati sembari menenteng clurit mencari Basori.

Kepalang basah, Basori meladeni ajakan duel suami Saminah, dan terjadilah caruk antar tetangga. Untung penduduk segera melerai. Sebelum luka-luka di tubuh Basori semakin parah, Jawali berhasil diamankan dan diserahkan kepada Polsek Labang. Dalam pemeriksaan dia mengakui, meski sangat mendambakan anak, tapi tidak mau jika itu hasil “donasi” dari lelaki lain.

Iyalah, masa anak saja hasil kerja outsorching. (TP/Gunarso TS)

 
Source : POSKOTAnews.com

============================

Produk CNI adalah “Produk Kualitas Menengah Atas, Harga Menengah Bawah”    

Untuk info & Pemesanan :  
HUB : MUHAMAD IPANGO  
Telp / Hp : 021-7816369 / 0815 2363 9145 / 0816 160 5367


  Kunjungi kami di :
TOKO SEHAT ONLINE

Sabtu, 16 Februari 2013

Musibah “Malam Pertama”

Musibah “Malam Pertama”
ANDAIKAN  kasus Fenti – Makbul ini terjadi secara sistemik, niscaya rumah sakit penuh pengantin wanita korban malam pertama. Soalnya macam Fenti ini, usai “bermalam pertama” tidak resmi, mengalami pendarahan hebat. Bahkan RS pun tak mampu mengatasinya, sehingga gadis belia itu tewas kehabisan darah gara-gara digauli kekasihnya.

“Malam pertama” adalah malam yang ditunggu-tunggu setiap pasangan pengantin baru. Meski penuh rasa deg-degan, tapi itu saat-saat paling mengasyikkan. Di situlah mereka mengenal apa itu maknanya “mbelah duren jatohan”. Tapi ingat, hal itu hanya boleh dilakukan oleh pasangan resmi yang sudah didaftar di KUA atau di lembaga lain bagi pasangan non Islam. Yang nekad melakukan sebelum resmi, itu namanya “ngebon”, padahal istri bukanlah koperasi atau tata usaha.

Nah, “tukang ngebon” tanpa bukti kwitansi rangkap tiga itu adalah Makbul, 24 (bukan nama sebenarnya), warga Muarojambi Prov. Jambi. Istri bukan, didaftar ke KUA juga belum, enak saja Fenti, 20 (bukan nama sebenarnya), dicemplak macam Angkot. Padahal resikonya sangat berat. Habis disetubuhi ternyata sang kekasih malah pendarahan hebat hingga tewas. Walhasil, Makbul batal ke meja KUA, tapi malah bakal ke meja hijau karena dituduh melenyapkan nyawa orang.

Makbul – Fenti pacaran sudah lebih 6 bulan lalu. Tapi pacaran selama itu, mereka hanya ngobrol dan jajan saja, tak pernah masuk wilayah lain. Setan pun jadi gemas, pacaran kok bicara saja tanpa kerja, jadi penyiar RRI saja sekalian! Maka setan pun mulai mengompori Makbul, bahwa kekasihnya itu sebetulnya maknyusss! “Soal belum resmi, urusan adminsitrasi kan bisa menyusul. Jaman sekarang Bleh, koalisi harus disusul eksekusi…..!” kata setan dalam kapasitasnya sebagai provokator.

Anak muda masih ijo macam Makbul, tentu saja mudah terprovokasi. Maka selesai ngobrol-ngobrol di Jembatan Batanghari II, dia membawa doinya ke kebon tempat dia bekerja yang berlokasi di Dusun Abadi Jaya, Desa Sungai Toman, Mendahara Ulu, Tanjab Timur. Sambil duduk di balai-balai, ketika situasinya sungguh kondusif, Makbul lalu merayu kekasih bersedia diajak berhubungan intim bak suami istri.

Setan kubu lain juga siap memprovokasi Fenti, sehingga tanpa banyak diplomasi dia langsung bertekuk lutut dan berbuka paha. Tapi sial, baru saja “malam pertama” tanpa izin ini berlangsung, tiba-tiba Fenti menjerit kesakitan karena serangan rudal Makbul yang terlalu telak. Pendarahan itu ternyata bukan hanya setetes dua tetes seperti lazimnya pecahnya hymen, tapi terus berlangsung hingga pagi hari. Makbul sudah berusaha membendung pendarahan itu dengan berbagai cara, tapi tak berhasil.

Dengan malu-malu Makbul membawa kekasihnya ke bidan terdekat. Tapi juga tak bisa mengatasi keadaan, sehingga lalu dirujuk ke ke Puskesmas Simpang Tuan. Dari sana dirujuk lagi ke Puskesmas Mendahara Ulu. Lantaran kondisinya makin parah, pukul 14.00, korban lalu dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sengeti. Hanya tiga jam dalam perawatan dokter, Fenti makin lama makin lemas dan akhirnya wasalam.

Keluarga Fenti di Kasang Pudak, Kabupaten Muarojambi, jelas sangat berduka. Pemakaman usai, kini Makbul diurus polisi Polres Tanjab Timur. Dalam pemeriksaan Makbul mengakui bahwa hubungan intim ini terjadi suka sama suka. Bahwa Fenti kemudian mengalami pendarahan hebat, itu di luar skenario. Tapi karena namanya menghilangkan nyawa seseorang, Makbul bakal kena pasal berlapis. Di samping melarikan gadis orang, juga pasal perzinaan. Setidaknya, ancaman 7 tahun penjara di depan mata.

Jangan panik, Pak Patrialis Akbar nanti siap memberi remisi. (RJ/Gunarso TS)
Source : POSKOTAnews.com