Jumat, 30 November 2012

Baru Isyu Sudah Kalap

Baru Isyu Sudah Kalap
Agaknya tukang becak itu memang lebih berkarya lewat tenaga daripada pikiran. Buktinya Marlis, 28 (bukan nama sebenarnya) dari Tembilahan (Riau) ini. Dengan kabar istrinya selingkuh, tanpa pikir panjang langsung saja main tusuk. Padahal Wida, 24 (bukan nama sebenarnya), istrinya sedang hamil 7 bulan. Tak ayal lagi ibu beserta janinnya langsung wasalam.

Tukang becak adalah profesi yang dijalani karena keterpaksaan. Gara-gara pendidikan minim, masuk jalur kerja formal menjadi susah. Pasar yang masih bisa menerima hanyalah hal-hal yang bermodalkan tenaga bukan pikiran. Nah, karena pendidikan yang minim pula, dia tak bisa menyelesaikan setiap masalah yang timbul secara bijak dan cerdas.

Ini setidaknya terjadi pada tukang becak Marlis yang tinggal di Lorong Belaras Tembilahan Kota, Kecamatan Tembilahan (Riau). Semua informasi yang masuk ditelan mentah-mentah, tanpa diselidiki dan diklarifikasi dulu. Padahal gara-gara pemikirannya yang pendek, keluarga hancur dan “karier” dia sebagai tukang becak harus berakhir, lantaran harus mendekam di sel penjara.

Keluarga Marlis sebenarnya pasangan yang sedang berbahagia. Sebab setelah setahun berumahtangga, istrinya menunjukkan hasilnya sebagai ibu rumahtangga sejati. Maksudnya, berkat kerja siang malam, Wida kini sedang hamil 7 bulan. Berarti 2 bulan 10 hari lagi dia akan disebut sebagai bapak. Marlis pun pernah berkhayal, agar nanti anaknya harus jadi orang pandai, sehingga tidak perlu jadi tukang becak macam dirinya.

Akan tetapi rupanya Tuhan berkehendak lain. Di kala Marlis sedang senang-senangnya bakal jadi ayah, ada orang iseng yang merusak kebahagiannya. Di kala dia sedang mengenjot becak, tiba-tiba ketemu tetangga. Maksudnya guyon, tapi Marlis menerima serius. “Kasihan amat kamu Marlis. Kerja sampai banting tulang begitu, padahal istrimu hamil tidak dengan kamu……!” ujar teman sambil berlalu.

Hati siapa yang tak tercekat bila tak bisa mencermati kata-kata itu? Dan sesuai dengan kadar pemikiran tukang becak, Marlis langsung menduga bahwa istrinya telah selingkuh. Jika hamil bukan denga dirinya, apa namanya kalau bukan selingkuh? Termakan oleh kabar itu, dia mendadak pulang dengan kemarahan yang meledak-ledak.

Alam pikiran Marlis yang sempit, menganggap bahwa Wida istrinya memang bermain selingkuh. Sebagaimana kata tetangga, istrinya hamil dengan orang lain. Ah, kurang ajar benar Wida ini. Di kala suami di luar capek menggenjot becak, di rumah istrinya digenjot lelaki lain. Masya Allah…….

Yang terjadi selanjutnya sungguh tragis. Tanpa bertanya ini itu, setibanya di rumah langsung saja Marlis menghujamkan pisau dapur ke perut dan leher istrinya. Cuma tiga kali, tapi langsung  wasalam. Sementara istrinya dimakamkan, Marlis menjalani pemeriksaan. Dia menyesal tujuh turunan saat tahu maksud kata “hamil tidak dengan kamu” adalah hamil tak mungkin berdua-dua. Nasi sudah menjadi bubur.

Untuk itu, istrimu sudah masuk liang kubur. (RK/Gunarso TS)



Source : POSKOTAnews.com

============================

Produk CNI adalah “Produk Kualitas Menengah Atas, Harga Menengah Bawah”    

Untuk info & Pemesanan :  
HUB : MUHAMAD IPANGO  
Telp / Hp : 021-7816369 / 0815 2363 9145 / 0816 160 5367


  Kunjungi kami di :
TOKO SEHAT ONLINE

Kamis, 29 November 2012

Sekedar Hobi Kok…

Sekedar Hobi Kok…
ANTARA Gunadi – Marsini semua berstatus lajang. Yang satu duda, yang satu janda. Jadi ketika mereka tertangkap basah sedang berbuat mesum, penyelesaiannya kan cukup dinikahkan saja. Sayangnya, pasangan itu memang tak ada niat ke sana.”Kami sekedar hobi, kok” kata mereka saat mau didaftarkan ke KUA.

Ternyata banyak juga ya dua sejoli berkasih-kasihan tanpa ada niat untuk resmi menjadi suami istri. Mereka berhubungan intim sekedar untuk mengisi rasa-rasa sepi karena kehilangan pasangan resmi. Kata mereka yang berpikiran praktis, dengan sekedar pacaran kan hanya tahu sisi bagusnya saja, tanpa peduli sisi negative. Kalau jadi suami istri, kan dibebani sebuah tanggungjawab. Sedangkan jika hanya “kumpul kebo”, kan hanya tahu wanginya, tak pernah melihat kekumuhan si pasangan dalam keseharian.

Ini pula agaknya yang jadi pertimbangan pasangan Gunadi, 40 (bukan nama sebenarnya), dengan Marsini, 37 (bukan nama sebenarnya). Mereka memang berangkat dari status yang aman, yakni antara duda lawan janda. Terus terang saja, Gunadi tak mencintai Marsini, begitu pula sebaliknya. Tapi ketika hujan lebat mengguyur Madiun semalaman, nah untuk mengusir dingin “apa salah”-nya lalu berpacu dalam birahi untuk mengusir ketegangan.

Karena kesamaan prinsip itulah, Gunadi – Marsini tetap berkencan ria tanpa pernah menuntut satu sama lain. Mereka melupakan etika, mereka menafikan tata krama bermasyarakat, sekaligus mengesampingkan ajaran agama. Bagi mereka, asal saat sama-sama butuh semuanya siap, tinggal dikerjakan saja. Persetan dengan moral dan etika, yang penting bisa berkencan dan nihil (masuk semua – Red) ibaratnya absen anak SD.

Asyik bagi Gunadi dan Marsini, tapi sangat menyesakkan dada warga kampung Pandean Kecamatan Mejayan Madiun (Jatim). Bagamana mereka tidak tersinggung. Sudah lama mereka berhubungan, tapi kok tak ada tanda-tandanya mau resmi menjadi suami istri. Ibarat nonton wayang, dari sore “perang” melulu dengan senjata Nenggala, tapi kok nggak pernah jejer Ngamarta atau Ngastina.

Hubungan haram itu kemudian dilaporkan ke Pak RW setempat. Teguran secara lisan itupun disampaikan, tapi baik Gunadi yang oknum ONS Pemkab Madiun maupun tak bergeming. Alasannya, mereka sudah sama-sama dewasa, sehingga sudah tahu mana yang baik dan benar. Pengurus RT tak perlu intervensi urusan pribadi warganya.

Alasan Gunadi – Marsini benar-benar bikin jengkel warga. Jika mereka terus bermesum ria di kampungnya, kan sama saja menganggap Pandean tempat bordil. Karenanya, untuk memberi pelajaran, pengurus RT dan RW sepakat untuk menggerebeknya. Dan itulah yang terjadi, dikala Gunadi masuk ke ruimah janda Marsini, pengegerebekan segera dilakukan. Keduanya kedapatan tidur seranjang.

Yang membuat warga tak habis pikir, ketika dibawa ke kantor RW dan direncanakan untuk dinikahkan, keduanya menolak mentah-mentah. Alasannya, hubungannya selama ini tanpa target harus menjadi suami istri. Mereka berhubungan sekedar melepas ketegangan, mengusir rasa sepi. Bahkan anak janda Marsini juga mendukung langkah ibunya, dan menganggap RT terlalu sibuk ngurusi wilayah pribadi orang. “Mereka kan janda dan duda, sehingga tak ada yang dirugikan,” katanya.

Untumu! Warga yang rugi, karena kampungnya jadi tercemar. (MMC/Gunarso TS)
 
Source : POSKOTAnews.com

============================

Produk CNI adalah “Produk Kualitas Menengah Atas, Harga Menengah Bawah”    

Untuk info & Pemesanan :  
HUB : MUHAMAD IPANGO  
Telp / Hp : 021-7816369 / 0815 2363 9145 / 0816 160 5367


  Kunjungi kami di :
TOKO SEHAT ONLINE

Rabu, 28 November 2012

“Rukun” Dengan Bini Orang


 “Rukun” Dengan Bini Orang

Tugas RT memang membina warga agar selalu rukun, hidup berdampingan. Tapi RT Marjuki, 50 (bukan nama sebenarnya), saking begitu menghayati jabatan tersebut, istri orang pun “dirukuni” di pondok tengah kebun. Demi nafsu, keduanya jadi lupa anak dan cucu.

Kecuali Jakarta, tugas keertean semuanya perjuangan. Kalau di Jakarta Pak RT dapat honor dari Pemda, di wilayah lain harus berani nombok demi keamanan dan ketertiban lingkungan. Maka tak mengherankan, jika ada rapat pembentukan RT baru, banyak warga yang tak hadir karena takut kena musibah jadi Pak RT.

Tapi kalau RT yang “cerdas” macam Marjuki dari Kabupaten Bangka Selatan, posisi RT justru memberi berkah dan penuh gairah. Sebab gara-gara jadi RT, dia dapat gebedan baru, perempuan berusia 48 tahunan, namanya Ny. Asmiah (bukan nama sebenarnya). Meski dianya sudah bercucu, karena bodi dan penampilannya masih STNK, sayanglah Pak RT untuk melewatkan begitu saja.

Sebagai pembina lingkungan, Marjuki memang tahu kondisi rumahtangga Asmiah. Berdasarkan testimoni yang pernah diterimanya, dia tak memperoleh “kepuasan” dari suaminya. Soal materil memang tercukupi, tapi masalah “onderdil”, inilah yang selama ini kedodoran. Padahal soal satu ini, meski kelihatannya sepele, bisa bikin berabe, sampai-sampai tiap malam hanya memble.
Sebagai RT yang baik, Marjuki dengan penuh empati mencoba memberikan solusi lewat koalisi yang dilanjutkan dengan eksekusi.

Di sinilah kemudian terjadi kontradiktif profesi. Sebagai RT dia sendiri sering menggebah para pelaku mesum di lingkungannya, tapi pada kesempatan lain Pak RT justru menjadi praktisinya. “Untuk Pak RT memang ada dispensasi,” kata setan memberi semangat.

Begitulah yang terjadi. Atas nama pembinaan lingkungan, Marjuki sering keluar masuk kampung di desanya, Tebingpanjang, Kelurahan Tanjungketapang, Toboali, Kabupaten Bangka Selatan. Tapi begitu situasinya aman, dia masuklah ke tengah kebun untuk ketemu Ny. Asmiah yang siap menunggu di dalam pondok. Lalu, meski udara tidak gerah, keduanya melepas baju masing-masing dan selanjutnya terserah Anda.

Pulang dari meninjau “kebun” Asmiah, wajah Pak RT demikian ceria. Maklumlah, ibarat mobil kan baru saja “tune up”, sekaligus sporing balansing dan amplas platina. Kondisi ini lama-lama menjadikan warga curiga. Kenapa Pak RT gemar sekali masuk kebun Ny. Asmiah. Sekali waktu mereka mengintipnya. Wooo….., ternyata begitu to? Kalau begini “fasilitas” Pak RT, pasti banyak yang mau jadi ketua RT.

Sebagai insan bermoral, warga pun jadi tak percaya lagi pada Pak RT. Kalau kasih sambutan sepertinya dia memang penganjur kebajikan, tapi giliran urusan wanita, malah jadi nampak kebajingannya. Karena itu warga sepakat untuk menggerebek pasangan mesum itu. “Kita tak mau punya RT tukang selingkuh,” kata warga bisik-bisik.

Begitulah yang terjadi. Beberapa hari lalu saat nampak RT Marjuki mengendap-endap masuk kebun Asmiah dengan motornya, warga mulai stelling. Benar juga. Saat digerebek keduanya sedang “pemanasan”, karena baju masing-masing teronggok di pojok ruangan. Tahu aksinya ketahuan, Marjuki langsung kabur ke dalam kebun, meninggalkan motor dan bajunya. Sore harinya, “tarsan” desa itu menyerahkan diri ke Polsek Toboalsi, siap dengan segala resiko, tentunya.

Dicopot dari RT gara-gara copot celana. (BP/Gunarso TS)
Source : POSKOTAnews.com

============================

Produk CNI adalah “Produk Kualitas Menengah Atas, Harga Menengah Bawah”    

Untuk info & Pemesanan :  
HUB : MUHAMAD IPANGO  
Telp / Hp : 021-7816369 / 0815 2363 9145 / 0816 160 5367


  Kunjungi kami di :
TOKO SEHAT ONLINE

Senin, 26 November 2012

Bini Dua Berantem Melulu

Bini Dua Berantem Melulu
APA enaknya punya bini dua, jika para istri akhirnya berantem melulu? Inilah lakon yang dialami Pedro, 35 (bukan nama sebenarnya), warga Surabaya. Istri resmi dan istri sirinya selalu berkelahi, sehingga akhirnya istri perdana, Aida, 22 (bukan nama sebenarnya), mati dibenturkan tembok oleh madunya, Ninin, 20 (bukan nama sebenarnya).

Banyak memang lelaki yang mengibaratkan istri ini tak lebih dari ban mobil. Maksudnya, mobil saja punya ban serep, kenapa orang tidak? Dengan ban serep kan menjadi lebih aman bila terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Jika istri mati misalnya, istri kedua kan bisa ditingkatkan menjadi ban utama. Kalau kurang, bisa cari ban serep yang lain lagi. Apa lagi juragan ayam bakar wong Solo, Puspo Wardoyo pernah bilang: banyak istri banyak rejeki.

Pedro warga Jalan Bratang Binangun, Surabaya, agaknya termasuk lelaki yang doyan perempuan. Bini satu saja tidak pernah habis dimakan rayap, ketika melihat barang lebih muda dan mulus, pengin lagi. Akhirnya, meski sudah punya istri Aida yang guru tari, dia masih juga nambah bini baru, Ninin, meski statusnya hanya nikah siri.

Secara hukum, istri lewat jalur KUA memang lebih kuat. Karena dia punya hak waris, sedangkan istri siri yang lewat jalur kiai tak memiliki. Tapi ditinjau perempuan sebagai “kendaraan”, keduanya sah dan halal untuk ditumpaki kapan saja dan di mana saja macam Coca Cola. Tapi meski posisi lemah, karena saking cintanya pada Pedro, Ninin mau saja diberi status yang hanya diakui bukan disamakan tersebut.

Dengan posisi sebagai poligamiwan, kini Pedro sudah memiliki masing-masing satu anak dari setiap istrinya. Bagaimana cara membagi waktu kepada kedua bini? Simpel sajalah, Senin hingga Rabu di rumah Aida, Kamis hingga Sabtu di rumah Ninin. Lalu bagaimana dengan hari Minggu? “Ya doking dong, masak kapal berlayar terus tanpa henti. Capek “jangkar”-nya ……..,” bela Pedro setiap ditanya teman-teman.

Tapi seperti banyak terjadi pada kasus poligami, suami tak mungkin bisa berbuat seadil-adilnya pada istri. Soal kunjungan nginep saja, misalnya. Dulu Pedro bisa mambagi sama waktu piketnya, tapi sekarang tidak lagi. Ini terasa benar sejak Aida melahirkan anak. Belakangan Pedro lebih banyak tinggal di istri keduanya. Maklumlah, kendaraan pertama kan baru turun mesin, jadi nggak bisa dibawa nanjak.

Kalau sekedar tidur bareng saja, Aida masih bisa memaklumi. Tapi saat masalah keuangan  juga lebih banyak dialokasikan pada Ninin,  dia protes pada Pedro selaku Banggar dalam rumahtangga. Tapi jawab suami: adil itu tak harus sama besar atau sama kecil, tapi disesuaikan dengan kebutuhan. Maka kesimpulan Aida kemudian, berarti Ninin memang pemboros, kerjanya merongrong suami.

Sejak itu keduanya menjadi sering ribut bin cakar-cakaran. Klimaksnya terjadi beberapa hari lalu. Karena beberapa hari suami tak pulang Aida segera menyusul ke rumah Ninin. Ternyata Pedro tak di sana. Persoalan tak selesai di situ. Mereka melanjutkan permusuhan lama. Keduanya pun terlibat baku mulut, dan kemudian baku hantam dan cakar-cakaran.

Ninin yang lebih muda, berhasil membanting Aida yang baru 2 bulan lalu bersalin. Tak puas dengan itu, kemudian sang madu tersebut dijedotin ke tembok hingga klenger. Buru-buru Ninin yang panik mencari suaminya. Saat dibawa ke RSUD Dr Sutomo masih ada napasnya, tapi sampai di sana meninggal. Ninin pun jadi urusan polisi.

Ini kan gara-gara Pedro yang ora urus. (DS/Gunarso TS)


Source : POSKOTAnews.com

============================

Produk CNI adalah “Produk Kualitas Menengah Atas, Harga Menengah Bawah”    

Untuk info & Pemesanan :  
HUB : MUHAMAD IPANGO  
Telp / Hp : 021-7816369 / 0815 2363 9145 / 0816 160 5367


  Kunjungi kami di :
TOKO SEHAT ONLINE

Minggu, 25 November 2012

Isinya Cuma Tempe Kok

Isinya Cuma Tempe Kok
KATA  tempik sorak dalam bahasa Indonesia, bisa diartikan bersorak ramai-ramai. Tapi untuk bahasa Jawa, tanpa kata sorak di belakangnya bisa berarti kelamin wanita. Maka Sanjaya, 30 (bukan nama sebenarnya), warga Karawang nyaris dipukuli orang di Kediri (Jatim) gara-gara mau ngomong “tempe” dengan aksen Sunda yang kedengaran orang Jawa sebagai kata porno.

Ingat buku pelajaran Bahasaku untuk murid SD  (1960)  karya BM Noor dan WYS Purwadarminto? Dalam kisah Amir – Sudin – Tuti dan Hasan itu terbetik sebuah cerita yang dalam kalimatnya ada salah satunya menggunakan kata tempik sorak. Bagi anak Jateng – Jatim dan DIY, pada cengar-cengir saat memaba kata-kata itu, karena dianggap porno. Maka Pak Guru pun menerangkan, tempik sorak mengandung makna tertawa ramai-ramai.

Sanjaya warga Karawang (Jabar) belum lama ini naik KA Rapih Daha Jakarta – Kediri. Saat tiba di stasiun Kediri, dia bergegas menurunkan barang bawaannya. Karena kurang hati-hati, barang itu menimpa kepala penumpang bernama Wiwik (bukan nama sebenarnya) hingga kesakitan. Budi suami Wiwik segera menanyakan gerangan apa isi tas itu sehingga sangat menyakitkan jatuh di kepala orang? “Ini tempe….,|” jawab Sanjaya dengan logat Sunda.

Apa lacur, dalam pendengaran Budi kata-kata itu sama persis dengan kata bahasa Jawa yang berarti kelamin wanita. Kontan dia tersinggung. Ditanya baik-baik kok malah menjawab dengan kata jorok, bukankah ini sebuah pelecehan. Hampir saja Sanjaya ditempelengnya. Untung percekcokan itu segera dilerai petugas PT KAI setempat.

Namun demikian Budi tidak terima, sehingga perkara ini diselesaikan di ruang Keamanan. Sanjaya bersikeras menyebut “tempe”, tapi Budi bersikukuh kata-kata itu mengandung makna kelamin wanita. Demikian tak terimanya, Budi segera melaporkan perkara ini ke  polisi Polsek Kota Kediri.

Polisi pun mencoba mencari jalan keluar. Apa bedanya antara tempe dalam pendengaran Jawa dan Sunda? Saat tas yang jadi gara-gara mau diperiksa, isinya ternyata bukan tempe, tapi piring. Pantas saja jatuh di kepala lumayan juga rasanya. “Jadi mana yang benar, tempe apa piring?” kata polisi hati-hati melafalkannya, karena takut kesleo.

Jelas isinya piring. Sedangkan Budi mau melanjutkan kasus “tempe” ini ke wilayah hukum. Polisi pun segera menyarankan Budi – Sanjaya bermaafan saja, karena perkara sepele ini bila diteruskan ke proses hukum bikin capek saja, sedangkan tugas polisi yang lain masih begitu banyak.

Damai sajalah, sambil makan berlauk tempe penyet. (DS/Gunarso TS)


Source : POSKOTAnews.com

============================

Produk CNI adalah “Produk Kualitas Menengah Atas, Harga Menengah Bawah”    

Untuk info & Pemesanan :  
HUB : MUHAMAD IPANGO  
Telp / Hp : 021-7816369 / 0815 2363 9145 / 0816 160 5367


  Kunjungi kami di :
TOKO SEHAT ONLINE

Sabtu, 24 November 2012

“Heboh”-nya Brimob Gorontalo

“Heboh”-nya Brimob Gorontalo
LAGI-lagi polisi Brimob Polda Gorontalo, bikin heboh. Jika Briptu Norman Kamaru lewat lipsink lagu India-nya, Brimob satunya yang bernama Wawan (bukan nama sebenarnya) ini justru “dangdutan” dengan gadis sampai hamil, tapi tak tanggungjawab. Paling heboh, gadis Diana, 25 (bukan nama sebenarnya), mengamuk di Polda Gorontalo saat Wawan nikah dinas dengan WIL-nya.

Lewat lipsinknya lagu India berjudul “Chaiya”, Briptu Norman Kamaru anggota Brimob Gorontalo langsung melejit jadi artis. Dia kaya mendadak, meski resikonya harus dicopot dari profesinya sebagai anggota polisi. Tapi dengan dunia menyanyi hobi lamanya, kini Norman Kamaru merasa happy. Bahkan katanya, dia siap jadi tukang ojek di Jakarta bila memang gagal menjadi artis dan selebritis baru.

Seorang anggota Brimob Polda Gorontalo yang belum jelas pangkatnya, Wawan (bukan nama sebenarnya), tanpa sadar juga bikin heboh institusi kepolisian tempat bernaungannya selama ini. Di saat dia menjalani wanjak (kawin dinas) dengan gadis pilihannya, mendadak datang gadis Diana bersama ibunya. Keduanya lalu ngomel-ngomel menelanjangi kelakuan oknum Brimob yang baru jadi raja sehari itu. Polda Gorontalo pun heboh, tapi kali ini tanpa chaiya chaiya…….

Sejak di kala mengikuti pendidikan kepolisian, diam-diam Wawan di luar kedinasan ikut pula dalam pendidikan…….. seks! Betapa tidak, Diana kekasih idaman kalbu yang dipacari sejak tahun 2008, diajaknya berhubungan intim sebagaimana layaknya suami istri. Awalnya sang kekasih menolak. Tapi begitu Wawan menggaransi untuk bertanggungjawab bila terjadi kehamilan, akhirnya Diana bertekuk lutut dan berbuka paha juga.

Entah berapa kali mereka berbuat, tahu-tahu Diana hamil. Sebagaimana janjinya, Diana pun menuntut pertanggunganjawab Wawan. Tapi siswa sekolah polisi itu berkelit, karena masih dalam pendidikan, sebaiknya digugurkan saja. Nah, demi karier calon suami Diana dengan rela hati menggugurkan janin buah cinta kasih mereka. Habis itu, terus tidak berbuat? Mana bisa, ya tetap saja nihil……(masuk semua – Red).

Wawan – Diana terus berhubungan bak suami istri. Karena Diana memang tipe cewek HP touchscreen (layar sentuh), sekali sentuh langsung jadi! Sekarang Wawan kan sudah jadi anggota Brimob, jadi mau alasan apa lagi? Karena itu Diana segera minta pertanggungjawaban seperti dulu. Ternyata kini Wawan masih berkelit lagi. Katanya, karena masih menunggu restu orangtua, sebaiknya digugurkan lagi. Lagi-lagi demi cintanya pada Wawan, dengan berat hati Diana menggugurkan janin produk keduanya.

Sementara keduanya terus pacaran dan nihil-nihilan selalu, terbetik kabar bahwa Wawan hendak menjalani Wanjak di Polda Gorontalo. Yang bikin Diana terkaget-kaget, pengantin wanita bukan dirinya, melainkan gadis lain. Buru-buru bersama ibunya dia mendatangi acara itu di hari H-nya. Ternyata betul, dalam sebuah acara resmi wanjak, Wawan dan pasangannya sedang menjalani proses pernikahan itu.

Emosinya tak bisa dikendalikan lagi, ibu dan anak memaki-maki Wawan. “Kamu sudah dua kali menghamiliku dan minta digugurkan, kenapa malah menikah dengan perempuan lain,” kata Diana berapi-api. Diana dan ibunya diamankan, agar tak mengganggu jalannya upacara. Namun demikian Polda Gorontalo siap menyelidiki kebenaran laporan dan “unjuk rasa” gadis Diana. Jika benar, Wawan pun bisa dikenakan sanksi.

Jadi Briptu Norman Kamaru kedua, alias dipecat? (JPNN/Gunarso TS)


Source : POSKOTAnews.com

============================

Produk CNI adalah “Produk Kualitas Menengah Atas, Harga Menengah Bawah”    

Untuk info & Pemesanan :  
HUB : MUHAMAD IPANGO  
Telp / Hp : 021-7816369 / 0815 2363 9145 / 0816 160 5367


  Kunjungi kami di :
TOKO SEHAT ONLINE

Jumat, 23 November 2012

Clurit untuk Gendakan Ibu

Clurit untuk Gendakan Ibu
ANAK cap apapun pasti kesal ketika ibunya digendak lelaki lain, padahal ayahnya masih meger-meger (hidup). Tapi kesalnya Sapri, 25 (bukan nama sebenarnya), dari Sampang (Madura) ini terlalu over dosis. Tahu ibunya diselingkuhi Matsanip, 45 (bukan nama sebenarnya), lelaki tetangga desa itu langsung saja dibawakan clurit dan dibacok hingga wasalam.

Tak pandang lelaki, tak pandang perempuan, di kala kesepian jauh dari pasangan, rasa rindu datang meledak-ledak. Bagi yang kuat iman dan “imin”-nya, bisa bersolusi dengan menyibukkan diri pada kegiatan lain atau berpuasa sebagaimana hadits Nabi. Namun bagi yang mengedepankan “imin” daripada iman, ya gresek-gresek cari medan penyaluran lain. Dan inilah yang dinamakan selingkuh atau selingan indah keluarga utuh.

Istri Bahrul, 50 (bukan nama sebenarnya),, adalah salah satu wanita yang sedang dilanda kerinduan tiada tara. Sejak suaminya menjadi TKI di Arab Saudi beberapa tahun lalu, Ny. Zaujah, 43 (bukan nama sebenarnya),, praktis tak pernah dapat lagi jatah “alutsita” (alat utama sistem percintaan). Meski umur suami sudah kepala 5 dan dia sendiri kepala 4, selama ini urusan pertempuran di ladang asmara memang tak pernah surut. Pendek kata, tua-tua keladi, makin tua makin menjadi.

Kalau urusan perut, kelaparan bisa jajan di warung. Tapi untuk urusan bawah perut, untuk kaum Hawa macam Jauzah, mana mungkin keluyuran ke rumah bordil cari lelaki hidung belang? Memangnya perempuan apaan? Sadar akan posisinya, meski rindu suami setengah mati, bisanya ya hanya ngulat-ngulet (menggeliat) sambil mendekap guling tanpa makna. “Rindu, rindu, rinduku setengah mati,” kata penyanyi Anik Sunyahni dalam lagu campursari. (Tilpun, tilpun! – Red)

Agaknya, perilaku orang kesepian macam Zaujah mudah terbaca oleh kalangan pengamat wanita macam Matsanip. Lelaki setengah baya warga dusun Polai Laok Desa Bire Tengah Kecamatan Sokobanah ini tahu persis bahwa bini Bahrul sedang kesepian tingkat tinggi. Kebetulan pula bodi dan penampilan Ny. Zaujah masih menjanjikan, sehingga Matsanipun ingin menjadi dewa penolong. Bukankah para leluhur selalu menyerukan agar selalu “mangun karyenak tyasing sesami” (menyenangkan hati orang)?

Hal inilah yang mendorong Matsanip mendekati Ny. Zaujah. Awalnya sih bini Bahrul ini menolak dan menepis. Tapi karena semangat tanpa menyerahnya begitu tinggi, lama-lama perempuan kesepian ini bertekuk lutut dan berbuka paha. Jadilah mereka berkoalisi lengkap dengan “eksekusi”. Bila PKB, Gerindra, PPP, PKS dan  Hanura baru mau membentuk poros tengah, Matsanip belakangan sudah menikmati betapa asyiknya urusan “poros tengah” itu.

Asal ada peluang, keduanya pun lalu berasyik masyuk. Lama-lama hal ini tercium oleh Sapri, anak remaja Ny. Zaujah. Dia marah sekali ketika mendengar kabar ibunya digendak dan dicemplak lelaki tetangga desa. Sebagai lelaki beriman, dia mencoba menegur ibunya secara baik-baik, tapi nggak digubris. Paling kesal, para tetangga menuduh Sapri tak bisa menjaga citra keluarga. “Alah, cemen kamu….,” ledek teman-temannya sedesa di Karanganyar Kecamatan Ketapang.

Yang begini ini Sapri tak bisa tahan. Masa anak muda kok dilecehkan. Segera saja dia ambil clurit dan mencari Matsanip di rumahnya. Berulang kali gagal ketemu, sehingga terpaksa disanggong. Nah, ketika lelaki itu terlihat di rumah sendirian, langsung saja ditemu kuwuk (disergap mendadak). Meski Matsanip sudah ampun-ampun minta maaf, tetap saja dibabat clurit berulangkali hingga tewas. Sementara janazah lelaki petualang asmara ini dimakamkan, Sapri kini ditahan di Polsek Sokabanah.

Umur berapa kamu nanti bebas dari penjara Pri? (BJ/Gunarso TS)


Source : POSKOTAnews.com

============================

Produk CNI adalah “Produk Kualitas Menengah Atas, Harga Menengah Bawah”    

Untuk info & Pemesanan :  
HUB : MUHAMAD IPANGO  
Telp / Hp : 021-7816369 / 0815 2363 9145 / 0816 160 5367


  Kunjungi kami di :
TOKO SEHAT ONLINE

Lebih Tertarik Ke SPG-nya

Lebih Tertarik Ke SPG-nya
SEBAGAI wanita SPG (sales promotion girls), penampilan Anita, 26 (bukan nama sebenarnya), memang bolehlah. Tapi celakanya, ketika dia menawarkan sebuah produk, justru Darmawan, 35 (bukan nama sebenarnya),  selaku konsumen malah tertarik pada si penjaja produk. Karena sudah sama-sama cocok, koalisi itu dilanjutkan dengan eksekusi di sebuah kompleks BTN.

Seorang SPG bertugas menjual sebuah produk perusahaan, door to door  masuk rumah orang. Untuk memperlancar tugas, penampilan menarik dari seorang SPG juga bisa bikin konsumen mau membeli produknya. Apa lagi jika ketemu lelaki mata keranjang. Yang dibeli bukan hanya produk yang ditawarkan, jika memungkinkan sang SPG-nya juga mau diborong sekalian.

Kebetulan Anita sebagai tenaga SPG memiliki keduanya. Di samping pintar memasarkan produk, penampilan kasat matanya memang cukup menjanjikan. Bayangkan, bodinya cukup seksi, pantat njedit dengan bayangan celdamnya, betisnya mbunting padi pula. Kulitnya yang putih bersih, menjadikan lelaki yang menatapnya akan selalu berpikiran ngeres. “Cewek model begini kayaknya enak dipacari dan perlu,” begitu kata lelaki mata keranjang.

Sekali waktu Anita terdampar di sebuah kantor perusahaan tehnik. Dia menawarkan sebuah produk kepada Darmawan yang jadi manajer tehnik di perusahaan itu. Demi melihat penampilan sang SPG, pendulum Darmawan langsung kontak blip, blip, sementara ukuran celananya mendadak berubah. Kelanjutanya, dia tak tertarik pada produk yang ditawarkan, tapi justru ngebet pada yang menawarkan.

Sebagai basa-basi sekaligus pendekatan diri, Darmawan membeli juga produk yang dibawa Anita. Namun lebih dari itu, sang meneger tehnik itu mencoba tanya nama dan alamat rumah segala, sekaligus nomer HP-nya pula. Rupanya Anita sendiri juga kadung simpati pada lelaki tersebut, sehingga nomer HP-nya pun diberikan. Selanjutnya, mereka pun berhalo-halo sampai kuping panas. Jikalau sudah SMS-an, tat tit tat tit melulu, sampai ujung-ujungnya bermuara ke urusan …..titit!

Koalisi tidak resmi antara Darmawan – Anita memang sudah terjalin. Namanya koalisi jika tidak dilanjutkan dengan eksekusi, rasanya kok tidak afdol. Meski keduanya sudah punya pasangan masing-masing, nampaknya enteng saja mereka melangkahkan kaki ke medan mesum. Maka tempat yang ditujunya adalah sebuah rumah BTN di komplek Tiboyong. Kebetulan Darmawan punya salah satu rumah di situ, yang hingga kini belum ditempatinya.

Komplek yang belum seluruhnya dihuni, menyebabkan situasi di situ demikian mantap terkendali. Maka Darmawan – Anita dengan nyaman dan tenang berbagi cinta kapan saja suka. Terlena akan kenyamanan selama ini, agaknya keduanya jadi lupa bahwa sejumlah warga diam-diam juga mengamati perilakunya.

Dan inilah yang terjadi beberapa hari lalu. Di kala keduanya baru dalam taraf pemanasan, tiba-tiba digerebek Satpol PP atas laporan warga. Keduanya kedapatan dalam kondisi telanjang bulat. Tak begitu jelas, sudah “nihil” apa belum. Yang pasti keduanya lalu diamankan ke Kantor Satpol PP, Bone (Sulsel). Dalam pemeriksaan, keduanya mengaku memang sudah berkeluarga, hanya setannya saja yang tak mau diajak kekeluargaan.

Maksudnya, Darmawan – Anita disuruh terus “bergulat”, gitu. (KN/Gunarso TS)

Source : POSKOTAnews.com

============================

Produk CNI adalah “Produk Kualitas Menengah Atas, Harga Menengah Bawah”    

Untuk info & Pemesanan :  
HUB : MUHAMAD IPANGO  
Telp / Hp : 021-7816369 / 0815 2363 9145 / 0816 160 5367


  Kunjungi kami di :
TOKO SEHAT ONLINE

Kamis, 22 November 2012

Urusan Keluarga Apa Kelon?

Urusan Keluarga Apa Kelon?
ORANG pikir, bila sudah ambil alasan “urusan keluarga”, semuanya bisa dimaklumi. Nanti dulu! Rahmad, 39 (bukan nama sebenarnya), dari Riau, telah menguji materi bahwa tak selamanya alasan itu benar. Buktinya sang istri, Yunita, 35 (bukan nama sebenarnya), katanya pergi urusan keluarga, tak tahunya malah kelonan dengan PIL-nya.

Pepatah lama mengatakan, sekali lancung ke ujian seumur hidup orang takkan percaya. Jika sudah sering berbuat bohong, mana ada orang mau percaya kepadanya. Apa lagi bank, sekali nasabah telat nunggak cicilan, utang berikutnya pasti takkan dilayani. Pindah ke bank lain sama saja, karena namanya sudah di “black list” di Bank Indonesia.

Kebohongan Yunita memang tak sampai urusan bank. Tapi bohong pada suami jadi pekerjaan sehari-hari. Awalnya Rahmad percaya saja atas segala alasan istri yang tetek bengek itu. Di antaranya, dia sering pulang ke rumah orangtuanya dengan alasan “urusan keluarga”. Nggak tahunya, ada teman yang menginformasikan bahwa hari A tanggal B, dia melihat Yunita jalan dengan lelaki C di hotel D.

Tentu saja Rahmad terkaget-kaget. Kok begitu teganya sang istri mengkhianati cintanya. Tapi untuk menuduh langsung seperti apa yang dikatakan teman, terus terang Rahmad tak berani karena tanpa didukung bukti atau fakta otentik. Akhirnya Rahmad hanya bisa berharap semoga nanti ditemukan teknologi, yang bisa melacak ke mana saja kepergian istri hari ini. Ya semacam spedometer begitulah,  semakin banyak penambahan angka, berarti semakin jauh motor “dikendarai”.

Walhasil laporan teman itu hanya dipendam dalam hati. Tapi ketika beberapa hari lalu kembali istrinya minta izin urusan keluarga, diam-diam  dia membuntuti. Kepala keluarga dari Komplek Pemda Siak itu dari jauh memantau ke mana saja istri pergi. Ternyata benar. Yunita memang tidak ke rumah orangtuanya,  melainkan cek in di hotel daerah Pakanbaru. Begitu istrinya masuk kamar, Rahmad segera mengontak Satpam hotel.

Penggerebekan segera dilakukan. Ternyata benar. Di dalam kamar tersebut sudah menunggu seorang lelaki yang jadi PIL Yunita. Sudah barang tentu keduanya terkesiap, meski belum berbuat apa-apa, apa lagi sampai “nihil”. Untungnya Rahmad ini orangnya  penyabar,  dia hanya menegur istri penuh sindiran. “Urusan keluarganya di hotel ini toh?” kata Rahmad telak, sementara Yunita hanya tertunduk malu, begitu pula doinya.

Malam itu juga kasus skandal asmara ini diserahkan ke Polres Pekanbaru. Keduanya dikenakan pasal perzinaan, meski belum ada bukti bahwa keduanya sudah melakukan persetubuhan dengan bukan pasangannya. Tapi logikanya, bukan muhrim malam-malam berdua di hotel mau ngapaian?

Main-main sambut tahun baru, ngkali. (KN/Gunarso TS)

Source : POSKOTAnews.com

============================

Produk CNI adalah “Produk Kualitas Menengah Atas, Harga Menengah Bawah”    

Untuk info & Pemesanan :  
HUB : MUHAMAD IPANGO  
Telp / Hp : 021-7816369 / 0815 2363 9145 / 0816 160 5367


  Kunjungi kami di :
TOKO SEHAT ONLINE

Rabu, 21 November 2012

“Jago” Mati di Dapur

“Jago” Mati di Dapur
AYAM mati di lumbung padi, begitu kata pepatah. Tapi kalau Marsin, 45 (bukana nama sebenarnya), ibaratnya “jago” mati di dapur sendiri. Soalnya, dia mati mandi darah gara-gara dibacok oleh Gondo, 35 (bukana nama sebenarnya), suami rekanan selingkuhnya. Sadis nggak, di kala sedang asyik “bergulat” di dapur sendiri dengan Ny. Yayuk, 30 (bukana nama sebenarnya), tahu-tahu golok menyambarnya. Ya wasalamlah.

Tak peduli apa alasannya, seyoganya janganlah mengkhianati suami. Apa lagi lalu berbuat selingkuh dengan tetangga sendiri, ini bertentangan dengan hukum agama dan negara. Kalau ketahuan, mau ditaruh mana muka ini. Bayangkan, enaknya tak seberapa, tapi malunya takkan terhapus dan jadi catatan anak cucu. Seperti Marsin di atas itu contohnya, sekian puluh tahun kemudian akan dikenang jelek oleh tetangga. “Jenate Marsin kae, matine rak dibacok bar dhemenan ana pawon (almarhum Marsin matinya dulu kan dibacok usai kelonan di dapur),” begitu kata orang.

Ihwal kelabu ini bermula dari penyakit asli kebanyakan kaum lelaki. Dia tak pernah tahan godaan seks, karena orang semacam itu memang selalu menganggap seks sebagai panglima. Meski sudah punya stok sendiri (baca: istri), kalau ada peluang, stok yang lain masih mau juga. Kasarnya, andaikan tak ada aturan hukum dan  agama, setiap wanita cantik maunya dijajal dan disetubuhi. Jadi maaf kalau dikatakan, kaum adam memang tak ubahnya ayam jago yang bercelana!

Kondisi Marsin seperti itu. Apa lagi statusnya dewasa ini sebagai duda, sehingga melihat perempuan cantik macam kucing lihat dendeng. Celakanya, “dendeng” yang lain masih banyak, Marsin justru tertarik pada dendeng milik Gondo tetangganya. Setiap melihat Ny. Yayuk, matanya melotot dan membuntuti terus macam senter Eveready baterai tiga. “Yayuk memang enak dikeloni dan perlu,” begitu katanya selalu.

Agaknya Yayuk tahu bahwa dirinya menjadi “tetangga idola” buat Marsin.  Dasar istri Gondo ini rupanya juga wanita petualang, “tantangan” tetangga itu diladeni juga. Dalam sebuah kesempatan, keduanya pun berhasil koalisi yang dilanjutkan dengan “eksekusi”. Woooo, ternyata permainan Marsin memang luar biasa. Ibarat pertandingan sepakbola, duda tetangga ini cermat sekali menggiring bola. Ketika menjelang gawang, dia mampu mengecoh lawan. Nampaknya bola mau ditendang ke kiri, tahu-tahu slupppp….masuk lewat tendangan arah kanan. Gooooolllll……

Hebat sekali Marsin. Sehingga saking ketagihannya, diam-diam Yayuk rela mengacu sistem jemput bola, yakni dia sendiri yang diam-diam ke PIL-nya untuk menjemput “bola” Marsin. Tak peduli hanya di dapur, keduanya pun lalu berlaga, bergulat antara hidup dan mati. Selesai memuaskan libido masing-masing, baik Marsin maupun Yayuk kembali ke pangkalan masing-masing. Semuanya berjalan rapi, seperti tidak pernah terjadi suatu apa.

Agaknya Yayuk lupa bahwa serapat-rapat membungkus bangkai, akhirnya tercium juga. Hal ini terjadi ketika Gondo tengah malam terjaga, kok istrinya tak ada di sampingnya. Saat dia bangun ternyata, pintu dapurnya terbuka. Lalu bersamaan dengan  itu di dapur Marsin tetangganya terdengar “heboh”, di antara derit amben (ranjang bambu) dan desah-desah nikmat yang keluar dari mulut Yayuk. Dan ketika diintip, ternyata benar. Dengan mata kepala sendiri Gondo melihat bininya sedang disetubuhi Marsin si duda sialan.

Ya suami cap apa yang tahan melihat pemandangan seperti itu, coba? Maka Gondo pun lalu ambil golok ke rumah. Tak lama kemudian dia masuk mendobrak dapur Marsin. Lelaki duda itu mencoba kabur, tapi golok lebih cepat menghampiri. Hanya dalam beberapa kali tebasan, PIL Yayuk pun tewas mandi darah. Gegerlah warga desa Karanglo Kecamatan Kunir. Saat penduduk berdatangan, yang ada tinggal Yayuk yang menangis pilu, sementara Gondo melarikan diri.

Umur habis gara-gara subita (suka bini tetangga). (HS/Gunarso TS)


Source : POSKOTAnews.com

============================

Produk CNI adalah “Produk Kualitas Menengah Atas, Harga Menengah Bawah”    

Untuk info & Pemesanan :  
HUB : MUHAMAD IPANGO  
Telp / Hp : 021-7816369 / 0815 2363 9145 / 0816 160 5367


  Kunjungi kami di :
TOKO SEHAT ONLINE

Kasmaran Janda Kebul-Kebul

nah-sub
GURU matematika ketemu guru bimbingan konseling di ranjang, mau ngapain, hayo? Jikalau mereka sama lelaki, mungkin sekedar tidur bersama. Tapi karena guru matematika itu lelaki dan guru bimbingan konseling itu janda masih kebul-kebul, wah tentu saja rame. Karena ini pula, Mardius – Haryani digerebek para tetangga.
Menyandang status janda dalam usia muda, jelas sebuah musibah. Tapi bagi orang lain yang punya interest di dalamnya, justru itu menjadi sebuah berkah. Sebab dengan status baru itu, dia punya peluang untuk melancarkan ambisinya yang selama ini terkendala. 

Taruhlah dia kemudian gagal dalam perjuangan, tapi pandangan umum bisa memaklumi. Beda bila mana dia “berjuang” ketika wanita itu masih punya pasangan resmi, orang akan menilai: “O lha wong edan, Rawabelong kulon Cilandak, bojone wong kok diudak-udak!

Nah, Mardius, 40, tak mau seperti itu. Meski cintanya pada Haryani, 33, setengah mati, dia masih bisa bertindak secara terukur, karena kala itu si wanita masih berstatus istri orang. Tapi begitu tahu teman guru di SMP Ponorogo ini sudah menyandang status janda, langsung saja digeber. Ibarat mobil, gasnya diinjak habis……..nguuung, nguuung, aduh penake!

Ya, Mardius dan Haryani memang sesama guru di sebuah SMP di kota Ponorogo. Pak Mardius menjadi guru matematika, dan Bu Haryani  guru bimbingan konseling. Orang Jawa punya ungkapan: witing tresna merga kulina. Itu pula yang kemudian terjadi. Lama Mardius berteman dan bergaul dengan Haryani, kok kemudian terbersit keinginan untuk menggauli. Tapi lho, lho, Haryani ini kan masih punya suami. Jadi mana mungkin “kendaraan” orang main cemplak.

Karena kesadaran itu pula, Mardius hanya panen mata pailan gulu (kenyang memandang saja), tanpa bisa berbuat apa-apa. Tapi namanya juga lelaki, setiap berpapasan di gang dengan Haryani, meski tempat masih cukup luas, selalu usaha untuk bisa nyenggol. Ketemu lengan, dapat lengan. Ketemu pantat, ya nyenggol pantat. Bagaimana rasanya? Wuihhh……ya seperti lagunya Didi Kempot itulah, serrr, serrr digoyang adhuh penake!

Kemudian Mardius sendiri menjadi heran. Meskipun dirinya tak mendoakan, sebagai orang aniaya dia mendapat info bahwa baru saja Haryani menyandang status janda, karena bercerai dengan suami. Wah, sesungguhnya ini musibah bagi Bu Guru, tapi malah menjadi berkah bagi Pak Guru. Sebab dengan status ini, dia bisa leluasa mendekati Haryani. Buktinya, baru dua minggu wanita itu menjanda, Mardius sudah rajin apel ke rumah sijanda yang masih kebul-kebul, habis diangkat dari tungku.

Awalnya Haryani juga berkelit, tak mau meladeni teman guru yang sudah beristri ini. Tapi karena dia sendiri lama-lama juga jomblo tanpa suami, akhirnya Bu Guru juga bertekuk lutut dan berbuka paha untuk Pak Mardius. Sejak saat itu Mardius menjadi semakin rajin berkunjung ke rumah Haryani. Bu Guru yang biasanya memberi bimbingan kepada murid, kini justru membibing rekan sesama guru ke dalam ranjangnya untuk mereguk kenikmatan sesaat.

Terlalu seringnya Mardius “studi banding” ke rumah janda kebul-kebul, warga Desa Mojopitu, Kecamatan Slahung itu memberi teguran seperlunya. Tapi tidak pernah digubris. Lama-lama Pak RT jadi mangkel instruksinya dilecehkan. Bersama warga pasangan mesum itu digerebek. Untung pamong setempat masih berbaik hati. Kasus ini tak diproses ke ranah hukum, kecuali denda dan bikin pernyataan tertulis untuk tidak berbuat lagi.

Mestinya dipaksa nulis: “saya takkan selingkuh lagi” sebanyak 1000 kali. (IC/Gunarso TS)


Source : POSKOTAnews.com