Rabu, 20 Maret 2013

Potong “Burung” Sumber Masalah

Potong “Burung” Sumber Masalah
SUAMI  poligami, inti masalah- nya karena “si burung” tak pernah puas. Ny. Daryati, 35, yang menderita gara-gara suami poligami, menyelesai-kannya dengan cara memotong “burung” suaminya. Untung sebelum amputasi itu berhasil, Yunus, 37, terbangun dan gegerlah warga Muara Enim (Sumsel).

Tengoklah lakon yang dijalani Yunus warga Desa Tanjung Tiga, Kecamatan Lembak, Kabupaten Muara Enim. Nafsu poligaminya demikian kuat, tapi tak didukung oleh kemampuan ekonomi yang mapan. Akibatnya rumahtangga dengan dua dapur itu tak pernah bahagia sejahtera. Terlalu lama di rumah bini muda, istri tua ngambek. Tapi betah banget  di rumah bini tua,  bini muda juga mencak-mencak.

Idealnya, dengan bini dua Yunus sebagai suami harus bisa membagi adil soal materil dan onderdil. Tiga hari di rumah bini tua, tiga hari pula di rumah bini muda. Lho, seminggu kan ada 7 hari, lalu yang sehari buat apaan? “Ibarat kapal ya untuk doking lah, masak 7 hari mau berlayar terus?,” kata si pemberi nasihat. Memang, gara-gara poligami itu Yunus jadi banyak curhat pada teman-temannya. Tapi tak ada yang bisa memberi solusi jitu.

Awalnya, rumahtangga Yunus dengan Daryati bahagia nan sejahtera. Tapi begitu melihat barang baru yang lebih bagus, Yunus terpikat juga. Walhasil gadis Linda, 28, dinikahi juga secara diam-diam. Sebulan dua bulan aman-aman saja politik poligami Yunus. Tapi begitu ketahuan, ngamuklah Daryati. Untung Yunus mampu berjanji bahwa akan adil pada kedua istrinya.

Tapi ternyata itu semua hanya teori. Permulaaannya Yunus memang bisa tertib tiga hari di bini muda dan tiga hari di bini tua. Soal waktu, karena tak perlu beli, masih bisa diatur. Tapi yang namanya duit, Yunus sungguh kedodoran. Penghasilannya yang tak seberapa besar, harus dibagi sama. Bini tua yang sudah punya sejumlah anak, tentu saja anggaran lebih besar. Ini jadi pangkal masalah. “Ekonomi jadi compang-camping, karena kamu kawin lagi,” omel istri berulang kali.

Ingin ketenangan karena diomeli melulu oleh istri tua, menjadikan Yunus lebih betah “ngungsi” di rumah bini muda kawasan Simpang Meranjat Kabupaten Ogan Ilir.

Tapi ini juga bikin murka Daryati. Maka saat suami kembali ke rumah untuk menggilir dirinya, dijadikanlah Yunus bak tahanan KPK. Dia tak boleh ke mana-mana. Ibarat kata, dia dikurung dalam sangkar bak nyanyian May Sumarno tahun 1970-an. “Wahai kau burung dalam sangkar, nasibmu malang benar…..”

Karantina model Daryati membuat Yunus tersiksa. Tapi ketika dia mau pergi diam-diam, eh ketahuan juga. Untuk menghibur diri, suami malang yang dibikin sendiri itu memilih tidur. Padahal dari sinilah malapetaka itu justru hadir. Soalnya, Daryati yang merasa tak bahagia hidupnya gara-gara “burung” suami yang diumbar ke mana-mana, bermaksud memutus mata rantai penderitaan itu dengan caranya sendiri.

Apa yang diperbuat Daryati? Begitu suami tidur pulas dengan posisi telentang, langsung saja dia ambil pisau dapur. “Burung” kakak tua yang suka hinggap di jendela mana saja tersebut lalu dirogoh dan dipotong. Tapi belum tuntas maksudnya, Yunus teriak kesakitan. Daryati kabur, sementara para tetangga segera membawa Yunus ke RSUD Prabumulih. Beruntung si burung masih bisa diselamatkan dengan sejumlah jahitan.

Harus bisa “berkicau” lagi tuh burung! (JPNN/Gunarso TS)


Source : POSKOTAnews.com

============================

Produk CNI adalah “Produk Kualitas Menengah Atas, Harga Menengah Bawah”    

Untuk info & Pemesanan :  
HUB : MUHAMAD IPANGO  
Telp / Hp : 021-7816369 / 0815 2363 9145 / 0816 160 5367


  Kunjungi kami di :
TOKO SEHAT ONLINE

Sabtu, 16 Maret 2013

Derita Punya Suami Pemabokan

Derita Punya Suami Pemabokan
SUDAH  selingkuh, mabukan lagi! Itulah kelakuan buruk Parkun, 27 (bukan nama sebenarnya), warga Mojokerto (Jatim). Punya suami macam begitu, tentu saja Muryati, 24 (bukan nama sebenarnya), bosan. Celakanya, mau minta cerai malah disambut dengan gebuk. Daripada “makan hati”, dia pilih minum cairan pengepel lantai. Untung nyawa Muryati masih peret!

Kaum wanita sebenarnya makhluk yang tahan menderita daripada lelaki. Biar suami jelek kayak mercon bantingan pun, takkan menyesal asalkan setia dan sayang keluarga. Tapi jika suaminya sudah jelek, pengkhianat cinta, tukang mabuk pula, bagaimana istri bisa betah bersamanya? Kalau bisa ditukar dengan abu gosok untuk cuci piring, pasti suami macam begitu sudah lama ditukarkannya.

Beginilah nasib Muryati, warga Desa Gayaman Kecamatan Mojoanyar Mojokerto. Berumahtangga dengan Parkun sejak 3 tahun lalu, tak pernah menikmati kebahagiaan rumahtangga barang semenit. Bawaannya harus marah melulu. Bagaimana tidak marah? Parkun ini jadi kepala rumahtangga tapi tanggungjawabnya nol. Cari kerja yang benar tidak bisa, tapi kerjanya minum bir sampai mabuk. Sudah begitu, doyan perempuan pula!

Kadang Muryati merasa, jadi istri Parkun hanya menjadi obyek seksualitas belaka. Kalau sedang butuh, mendekati dan merayu-rayu. Tapi setelah dilayani, langsung pergi mabuk-mabukan bersama teman. Yang paling menyakitkan, berulang kali masuk laporan bahwa Parkun di luar juga punya WIL. “Laki-laki memang anjing ibaratnya. Di rumah sudah diberi korned, ketemu kotoran dimakan juga….,” begitu Muryati pernah mengeluh.

Muryati berulangkali mencoba klarifikasi, siapa saja wanita yang digendaknya. Tapi boro-boro Parkun mengaku, justru tendangan dan tempelengannya yang bicara. Dia merasa tersinggung, karena kebebasannya sebagai lelaki diintervensi pihak lain. Katanya, perempuan tahu apa. Ibarat kata, biarkan isi botol diecer ke mana-mana, yang penting “gendul”-nya tetap kembali ke rumah secara utuh.

Jelas ini prinsip yang berlawanan dengan prinsip-prinsi keluarga sakinah yang mawadah wa rahmah. Sudah berulangkali Muryati memberikan opsi, daripada menyiksa badan, mendingan diceraikan saja. “Aku pegaten wae mas, mumpung isih padha wutuhe (ceraikan saja aku, mumpung belum punya anak ini),” kata Muryati memohon.

Namun Parkun tak pernah peduli, kecuali menjadikannya gebuk sebagai panglima. Nah, istri cap apa yang mau dijadikan sansak tinju berkelanjutan? Lantaran segala opsinya terjadi deadlock, Muryadi menjadi frustasi dan kehilangan harapan. Entah setan mana yang memprovokasi, tahu-tahu dia minum cairan pengepel lantai, glek, glek…glekkk, dan kemudian klepek-klepek!

Untung ulah Muryati ini segera ketahuan keluarganya. Dengan mulut membusa dia dilarikan ke RSI Sakinah, Mojokerto. Berkat pertolongan yang cepat, nyawa istri Parkun ini masih bisa diselamatkan. Masa-masa kritis itu telah lewat. Khawatir kejeblos dua kali ke lobang sama sebagaimana keledai, keluarga mendukung rencana putrinya.

Mending keledai, dia tak pernah mabuk dan selingkuh macam Parkun. (LP/Gunarso TS)
Source : POSKOTAnews.com


Source : POSKOTAnews.com

============================

Produk CNI adalah “Produk Kualitas Menengah Atas, Harga Menengah Bawah”    

Untuk info & Pemesanan :  
HUB : MUHAMAD IPANGO  
Telp / Hp : 021-7816369 / 0815 2363 9145 / 0816 160 5367


  Kunjungi kami di :
TOKO SEHAT ONLINE

Selasa, 19 Februari 2013

Staf KPUD `Coblos` Bini Orang

nah-sub
SEBAGAI staf KPUD, Murdadi, 29, ikut bertanggungjawab atas sukesesnya pencoblosan dalam pemilukada di daerahnya. Tapi di kesempatan lain, ternyata dia juga sibuk sendiri “mencoblos” bini orang. Wah, demikian rusaknya oknum KPUD ini, Bupati Kudus sampai terjun langsung mendamaikan warganya yang bertikai urusan selangkangan.

Pekerjaan KPUD (Komisi Pemilihan Umum Daerah) cukup sibuk juga. Selain mengatur penyelenggaraan pemilukada di wilayah kerjanya, juga saat  berlangsung pemilu legislatif dan pemilu presiden. Dalam kurun kerja selama 5 tahun, 3 kali pesta demokrasi itu menjadi tanggungjawabnya. Namun di Kudus (Jawa Tengah), sibuk seperti apa petugas KPUD, stafnya yang bernama Murdadi masih sempat-sempatnya ngurus “pencoblosan” non bilik TPS bersama Ny. Sri Kardini, 40, yang masih jadi bini orang.

Yang lumayan menarik dan menggelitik, Murdadi ini usianya belum kepala tiga. Tetapi kok mau-maunya punya rekanan selingkuh yang berusia 40 tahun. Atau mungkin oknum KPUD ini punya pertimbangan lain: wanita usia minimal 17 tahun sudah layak mencoblos maupun “dicoblos”. Jadi jika Sri Kardini ini baru berusia 40 tahun, ya nggak masalah. Bukankah usia maksimal untuk mencoblos dan “dicoblos” itu tak dibatasi?

Kisah perkenalan Murdadi dengan Sri Kardini memang tak ada ceritanya, apa lagi rilisnya. Yang orang tahu, belakangan oknum KPUD ini sering ditemukan jalan bareng dengan wanita warga Desa Desa Burikan, Kecamatan Mejobo Kabupaten Kudus. Awalnya warga positif thinking saja. Mungkin ini ada urusan dengan pemilukada, karena tahun 2013 mendatang KPUD harus menyiapkan pemilukada untuk memilih bupati baru.

Orang mulai curiga saat Murdadi berani mampir ke rumah Sri Kardini di kala suami tak di rumah. Warga pun bertanya-tanya, apa maksudnya ini. Apa mereka selingkuh? Tapi rasanya aneh juga, karena Ny. Sri Kardini kan 11 tahun lebih tua dari Murdadi. Namun pengamat perselingkuhan di wilayah itu lalu menganalisa. Bila merujuk teori Odifus Complex, bisa saja lelaki muda senang dengan perempuan tua. Bukankah yang lebih tua lebih berpengalaman, sehingga Capres tua pun masih laku jual.

Lama-lama warga bisa menerima “teori” itu. Sebab meski usia sudah kepala empat, Ny. Sri Kardini memang masih nampak sekel nan cemekel. Bodinya seksi, kalau dikekepi tanja tenan (asyik sekali) kata orang Yogya. Bahasanya orang sekarang, STNK (Setengah Tuwa Ning Kepenak). Kok tahu, memangnya pernah nyobain? Ya tanya kepada Murdadi-nya dong. Bukankah dia sebagai pihak pengguna perselingkuhan?

Kecurigaan warga semakin terbukti. Beberapa hari lalu, siang hari bolong Murdadi masuk ke rumah Sri Kardini di kala Warsino, 45, suaminya tak di rumah. Ketika pintu dan cendela ditutup rapat-rapat, kecurigaan pun semakin mengkristal. Saat diintip, ternyata betul! Oknum staf KPUD ini sedang menyelenggarakan “pencoblosan” dalam kamar bersama Ny. Sri Kardini. Rupanya seru sekali, karena tanpa disediakan tinta sidik jari dan juga kotak kartu suara, tetapi pencoblosan berlangsung mulus.

Tanpa menunggu “happy ending”, pasangan mesum itu langsung digerebek dan disidang kilat di balai desa. Rupanya penyelesaiannya cukup alot, sehingga Bupati Kudus H. Mustofa harus ikut turun tangan. Mengingat urusan polisi sudah cukup banyak, kasus mesum itu akhirnya diselesaikan secara damai. Murdadi yang sudah punya istri ini hanya diharuskan meneken perjanjian bahwa tidak akan mengulangi perbuatannya. Bagaimana dengan Warsino suami Sri Kardini?

Nerimo sajalah, toh “aset” miliknya tak sampai terlepas.
 (JPNN/Gunarso TS)

Source : POSKOTAnews.com

============================

Produk CNI adalah “Produk Kualitas Menengah Atas, Harga Menengah Bawah”    

Untuk info & Pemesanan :  
HUB : MUHAMAD IPANGO  
Telp / Hp : 021-7816369 / 0815 2363 9145 / 0816 160 5367


  Kunjungi kami di :
TOKO SEHAT ONLINE

Senin, 18 Februari 2013

Ayah Si Musang Berbulu Ayam

nah-sub
WASPADALAH pada suami sambungan, ketika di rumah masih ada anak-anak gadis. Soalnya, banyak anak tiri yang jadi korban suami “musang berbulu ayam”. Contoh terakhir Mardikin, 47, warga Malang (Jatim). Yanti, 17, sering disetubuhi sejak 2 tahun lalu, gara-gara pernah minta dimandikan ayah tiri.

Suami sambungan, sering menjadi ayah tiri bagi anak-anak si mantan janda. Banyak yang berhasil menjadi pengayom keluarga, paling tidak bisa menjaga stabilitas atau kelangsungan ekonomi. Tapi banyak juga bapak tiri yang kemudian berubah jadi “musang berbulu ayam”. Dia nampak keasliannya sebagai “musang” ketika melihat anak tiri yang ternyata lebih mulus daripada ibunya. Ini bukan ngarang, tapi sering terjadi sebagaimana Mardikin dari Malang ini.

Mardikin ini memang luwak (musang) ora kalap (tak berguna). Musang sesungguhnya masih ada nilainya, karena ketika dia makan kopi, biji-biji kopi yang bercampur dalam tinja si luwak akan menjadi mahal. Lha kalau Mardikin ini apa? Apa lagi tinjanya, kelakuannya saja ora nyegeri (tidak patut). Masak saking sayangnya pada anak tiri, Yanti yang dalam usia ABG itu dimandikannya dalam kondisi telanjang bulat. Nah, begitu kesetrom, repot deh……..

Lelaki yang tinggal di Dusun Krajan, Desa Bunut Wetan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, ini sejak 5 tahun lalu menikah dengan janda Darsini, 40. Sebagai janda STNK, ternyata dia juga membawa sejumlah anak dari hasil perkawinan sebelumnya. Karena Mardikin sudah mencintai ibunya, dia harus juga menyayangi anak-anaknya.

Salah satu anak bawaan Darsini, si Yanti manja banget pada ayah sambungan ini. Ketika sudah usia ABG pada 2 tahun lalu, soal mandi pun dia tak bisa melepas ketergantungannya pada ayah tiri. Padahal mandinya Yanti tak mau pakai basahan, tapi benar-benar toples alias telanjang bulat. Jikalau Yanti masih balita, itu no problemlah. Tapi Yanti sekarang kan sudah usia 15 tahun, sehingga bentuk tubuhnya pun mulai menjanjikan.

Nah, melihat kondisi seronok anak tirinya, apalagi saat ngosoki (membersihkan) tubuhnya pakai sabun mandi colibrita sakti, Mardikin mendadak naik spaneng begitu tangannya menyentuh gunung Kelud dan Wilis di dada sang ABG. Akhirnya Mardikin jadi lupa akan status dirinya. Dalam kondisi berdiri, Yanti dipaksa melayani kebutuhan biologisnya.

Berhasil menyetubuhi anak tirinya kali pertama, Mardikin menjadi ketagihan. Sekarang dia menjadi penganjur mandi sore hari. Dan  ketika istri tak di rumah, meski tidak dalam posisi sedang mandi, Yanti pun diajaknya bersetubuh bak suami istri. Gadis ABG ini melayani dengan terpaksa. Soalnya, bila menolak anggaran uang sekolahnya di SMA mau dibintangi alias ditunda. “Memangnya hanya DPR yang bisa mbintangi anggaran?” ancam Mardikin.

Aksi mesum ayah tiri ini berlangsung sejak tahun 2010 lalu, berarti sudah berjalan 2 tahun lamanya. Tentu saja Yanti capek dan stress dibuatnya. Beberapa hari lalu dia nekad lapor pada pamong desa. Wah, tentu saja Pak Kebayan terkaget-kaget, ada pesaing buaya darat di kampungnya. Skandal Mardikin ini dilaporkan ke Polsek Pakis, dan ayah tiri celamitan itu ditangkap. Dalam pemeriksaan dia mengakui perbuatannya. “Saya khilaf Pak, habisnya bodi Yanti bikin saya lherrrrr…..,” katanya polos.

Iman kuat ya Kin, tapi “si imin” yang nggak tahan. (DS/Gunarso TS)

Source : POSKOTAnews.com

============================

Produk CNI adalah “Produk Kualitas Menengah Atas, Harga Menengah Bawah”    

Untuk info & Pemesanan :  
HUB : MUHAMAD IPANGO  
Telp / Hp : 021-7816369 / 0815 2363 9145 / 0816 160 5367


  Kunjungi kami di :
TOKO SEHAT ONLINE

Minggu, 17 Februari 2013

Anak Hasil Kerja Outsorching

nah-sub
Di KALA lama merindukan anak, tiba-tiba mendengar istri hamil, mestinya Jawali, 45, bergembira. Tapi yang terjadi justru marah besar. Kenapa bisa begitu? Soalnya, kehamilan itu merupakan hasil kerja “outsorching”  lelaki tetangga. Maka Basori, 47, yang telah menyelingkuhi istrinya pun ditantang duel ala Madura, alias caruk!

Kelahiran anak adalah dambaan setiap rumah tangga. Tapi tak selamanya setiap keluarga memperoleh karunia itu. Sementara banyak pasangan yang sebentar-sebentar punya anak, banyak pula suami istri yang bertahun-tahun berumahtangga belum juga punya momongan. Jerih payahnya setiap malam sia-sia belaka, hanya menghasilkan capek dan kringeten thok!

Jawali warga Desa Bunajih, Kecamatan Labang, Kabupaten Bangkalan (Madura) ini termasuk lelaki yang tidak beruntung itu. Sudah 10 tahun lebih berumahtangga dengan Saminah, 35, tak kunjung punya momongan. Padahal berdasarkan pemeriksaan medis, baik shoftware maupun hardware keduanya normal-normal saja. Sebagai orang beriman, akhirnya Jawali pasrah saja. “Mungkin Allah memang belum memberi-Nya untukku,” katanya semeleh (berserah diri).

Tapi gara-gara hasilnya cuma keringatan doang, belakangan Jawali menjadi jarang menjalankan “sunah rosul”. Ibarat ladang, lahan gembur bebas gambut milik Saminah itu sudah jarang disiram dan dipakai bercocok tanam. Padahal yang namanya ladang, jarang digarap mesti saja menjadi njembrung (banyak rumput), salah-salah menjadi sarang burung.

Betul kan. Adalah Basori, lelaki tetangga yang selalu mencermati lahan Saminah yang dibiarkan terlantar. Ibarat burung gemak, dia ingin sekali bersarang  di sana. Melalui lobi dan pendekatan rahasia, ternyata Saminah bisa menyambut gembira kehadiran si “burung gemak”. Maka di kala Jawali tak di rumah, perselingkuhan antar tetangga itu terjadilah. Dan ternyata Saminah juga sangat menikmati, sehingga jadinya malah gemak lonteng-lonteng, krasa penak ndengkeng-ndengkeng.

Sekian bulan kemudian jejak burung tetangga itu mulai kelihatan, maksudnya: istri Jawali itu hamil 4 bulan. Dengan bangga nan bahagia Saminah mengabarkan kehamilan tersebut pada suami, karena sebentar lagi bakal punya momongan sebagai penerus dinasti Jawali. Namun di luar dugaan, Jawali malah marah. Soalnya dia curiga, dapat “saham” dari mana sehingga secara mendadak bininya bisa hamil? Lagi pula, ibarat tinta printer, dia juga sudah lama jarang isi ulang.

Awalnya Saminah tak mau mengaku. Tapi setelah didesak dan diancam, mengakulah dia bla bla bla….. Wah, sudah barang tentu Jawali jadi marah besar. Soalnya dia menjadi tahu bahwa selama dirinya tak di rumah, Basori sering masuk ke kamarnya untuk menyetubuhi Saminah. “Tapur kelap (sambar geledek),” makinya dalam hati sembari menenteng clurit mencari Basori.

Kepalang basah, Basori meladeni ajakan duel suami Saminah, dan terjadilah caruk antar tetangga. Untung penduduk segera melerai. Sebelum luka-luka di tubuh Basori semakin parah, Jawali berhasil diamankan dan diserahkan kepada Polsek Labang. Dalam pemeriksaan dia mengakui, meski sangat mendambakan anak, tapi tidak mau jika itu hasil “donasi” dari lelaki lain.

Iyalah, masa anak saja hasil kerja outsorching. (TP/Gunarso TS)

 
Source : POSKOTAnews.com

============================

Produk CNI adalah “Produk Kualitas Menengah Atas, Harga Menengah Bawah”    

Untuk info & Pemesanan :  
HUB : MUHAMAD IPANGO  
Telp / Hp : 021-7816369 / 0815 2363 9145 / 0816 160 5367


  Kunjungi kami di :
TOKO SEHAT ONLINE

Sabtu, 16 Februari 2013

Musibah “Malam Pertama”

Musibah “Malam Pertama”
ANDAIKAN  kasus Fenti – Makbul ini terjadi secara sistemik, niscaya rumah sakit penuh pengantin wanita korban malam pertama. Soalnya macam Fenti ini, usai “bermalam pertama” tidak resmi, mengalami pendarahan hebat. Bahkan RS pun tak mampu mengatasinya, sehingga gadis belia itu tewas kehabisan darah gara-gara digauli kekasihnya.

“Malam pertama” adalah malam yang ditunggu-tunggu setiap pasangan pengantin baru. Meski penuh rasa deg-degan, tapi itu saat-saat paling mengasyikkan. Di situlah mereka mengenal apa itu maknanya “mbelah duren jatohan”. Tapi ingat, hal itu hanya boleh dilakukan oleh pasangan resmi yang sudah didaftar di KUA atau di lembaga lain bagi pasangan non Islam. Yang nekad melakukan sebelum resmi, itu namanya “ngebon”, padahal istri bukanlah koperasi atau tata usaha.

Nah, “tukang ngebon” tanpa bukti kwitansi rangkap tiga itu adalah Makbul, 24 (bukan nama sebenarnya), warga Muarojambi Prov. Jambi. Istri bukan, didaftar ke KUA juga belum, enak saja Fenti, 20 (bukan nama sebenarnya), dicemplak macam Angkot. Padahal resikonya sangat berat. Habis disetubuhi ternyata sang kekasih malah pendarahan hebat hingga tewas. Walhasil, Makbul batal ke meja KUA, tapi malah bakal ke meja hijau karena dituduh melenyapkan nyawa orang.

Makbul – Fenti pacaran sudah lebih 6 bulan lalu. Tapi pacaran selama itu, mereka hanya ngobrol dan jajan saja, tak pernah masuk wilayah lain. Setan pun jadi gemas, pacaran kok bicara saja tanpa kerja, jadi penyiar RRI saja sekalian! Maka setan pun mulai mengompori Makbul, bahwa kekasihnya itu sebetulnya maknyusss! “Soal belum resmi, urusan adminsitrasi kan bisa menyusul. Jaman sekarang Bleh, koalisi harus disusul eksekusi…..!” kata setan dalam kapasitasnya sebagai provokator.

Anak muda masih ijo macam Makbul, tentu saja mudah terprovokasi. Maka selesai ngobrol-ngobrol di Jembatan Batanghari II, dia membawa doinya ke kebon tempat dia bekerja yang berlokasi di Dusun Abadi Jaya, Desa Sungai Toman, Mendahara Ulu, Tanjab Timur. Sambil duduk di balai-balai, ketika situasinya sungguh kondusif, Makbul lalu merayu kekasih bersedia diajak berhubungan intim bak suami istri.

Setan kubu lain juga siap memprovokasi Fenti, sehingga tanpa banyak diplomasi dia langsung bertekuk lutut dan berbuka paha. Tapi sial, baru saja “malam pertama” tanpa izin ini berlangsung, tiba-tiba Fenti menjerit kesakitan karena serangan rudal Makbul yang terlalu telak. Pendarahan itu ternyata bukan hanya setetes dua tetes seperti lazimnya pecahnya hymen, tapi terus berlangsung hingga pagi hari. Makbul sudah berusaha membendung pendarahan itu dengan berbagai cara, tapi tak berhasil.

Dengan malu-malu Makbul membawa kekasihnya ke bidan terdekat. Tapi juga tak bisa mengatasi keadaan, sehingga lalu dirujuk ke ke Puskesmas Simpang Tuan. Dari sana dirujuk lagi ke Puskesmas Mendahara Ulu. Lantaran kondisinya makin parah, pukul 14.00, korban lalu dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sengeti. Hanya tiga jam dalam perawatan dokter, Fenti makin lama makin lemas dan akhirnya wasalam.

Keluarga Fenti di Kasang Pudak, Kabupaten Muarojambi, jelas sangat berduka. Pemakaman usai, kini Makbul diurus polisi Polres Tanjab Timur. Dalam pemeriksaan Makbul mengakui bahwa hubungan intim ini terjadi suka sama suka. Bahwa Fenti kemudian mengalami pendarahan hebat, itu di luar skenario. Tapi karena namanya menghilangkan nyawa seseorang, Makbul bakal kena pasal berlapis. Di samping melarikan gadis orang, juga pasal perzinaan. Setidaknya, ancaman 7 tahun penjara di depan mata.

Jangan panik, Pak Patrialis Akbar nanti siap memberi remisi. (RJ/Gunarso TS)
Source : POSKOTAnews.com

Minggu, 06 Januari 2013

Mandi Mesum Air Makam


 Mandi Mesum Air Makam
Usai hubungan intim, suami istri mandi (junub) dengan air PAM. Tapi kalau mandinya pasangan mesum, cukuplah air makam! Begitulah lakon yang dialami pasangan selingkuh Usman (bukan nama sebenarnya) – Aida (bukan nama sebenarnya), dari Langsa, Aceh. Biar crindil (basah kuyup) dan kedinginan ini masih lumayan, daripada dihukum cambuk.
 
Seks di luar jalur resmi agaknya sudah jadi hobi banyak kalangan. Tak hanya di kota-kota besar Pulau Jawa, di Aceh Timur yang merupakan kota agamis saja, masih ada juga warga yang berani mengikuti bujukan setan. Padahal yang namanya selingkuh di “serambi”-nya Mekah, bisa kena sanksi hukum cambuk. Bayangkan, enaknya tak seberapa lama, tapi harus dibayar pantat bilur-pilur oleh lecutan cambuk yang menari-nari.

Agaknya Aida, 28, perempuan muda yang tak peduli atau memang belum tahu sanksi itu. Di kala kesepian karena suami sudah lama menelantarkannya, tanpa ragu dia berkoalisi dengan lelaki lain demi memburu kenikmatan sesaat. Waktu dan tempatnya pun asal-asalan saja. Bukan di hotel atau rumah bordil, tapi di rumah sendiri, bahkan di siang hari pula. “Jangan hanya bioskop, selingkuh pun bisa mathine (main siang)….,” kata setan memberi semangat.

Rumahtangga keluarga dari Gampong PB Blang Pase, Langsa Kota, Aceh Timur ini memang sedang dilanda gonjang-ganjing. Sudah lebih dari setahun suami meninggalkan dirinya, bersama tiga anaknya yang masih kecil-kecil. Soal urusan perut, masih bisa bergantung pada orangtuanya. Tapi soal yang di bawah perut? Wah, ini yang paling repot. Soalnya, meski tempatnya sangat nyempil, tapi menjadi demikian musykil jika tak diatasi secara prinsipil.

Kebetulan Aida juga bukan sosok yang berwajah kodian, sehingga meski sudah beranak tiga masih memiliki daya tarik istimewa. Sekali melihat bodi dan penampilan wanita semi janda ini, siapapun lelakinya pasti kepengin ngajak berkoalisi. Koalisi dengan kontrak politik istimewa hayo, koalisi tanpa ikatan apa-apa pun juga hayo. Pokoknya, dengan koalisi ini segera bisa dilanjutkan dengan eksekusi, dalam rangka kerjasama nirlaba.

Adalah anak muda bernama Usman, 25. Dia langsung terpesona begitu Ny. Aida memberikan sinyal-sinyal cinta. Maka ketika diajak main ke rumah dan kemudian diajak “main” di atas ranjang, langsung saja nyosor dia. Maklum, ini pengalaman baru sepanjang hidupnya. Di kala sekolah di SMA, bahkan di bangku perguruan tinggi sekalipun, tak pernah Usman menerima “pelajaran” seperti ini.

Karenanya, setiap Aida memberi “pelajaran” itu di rumahnya, dia selalu rajin mengikuti, meski tak bakal keluar dalam Ujian Nasional. Sampai kemudian hal ini menjadi titik perhatian para tetangga Aida. Mereka heran, kenapa asal pulang dari bepergian, wanita semi janda itu selalu membawa lelaki muda. Itupun sosoknya berganti-ganti. Dari yang tinggi jangkung, sampai yang bertubuh sedang. “Ah, siapa tahu itu sekedar audisi calon suami,” kata tetangga yang mencoba positif thinking.

Nah, karena sosok lelaki muda itu selalu berganti-ganti, warga menjadi curiga bahwa Aida sengaja hendak mau mengotori kampung sendiri. Maka beberapa hari lalu, saat di siang bolong Aida membawa lelaki muda, penggerebekan pun dilakukan. Tak salah dugaan itu, karena keduanya didapatkan baru saja selesai berhubungan intim bak suami istri. Marahlah segenap warga.

Keduanya segera dibawa ke tengah makam di pinggiran desa. Bila suami istri habis berjimak mandi air PAM,  kini Usman – Aida mau dimandikan dengan air sumur di makam. Percuma saja mereka berontak, karena warga silih berganti mengguyur mereka dengan ember plastik sehingga tubuhnya menggigil kedinginan. Kata warga, ini lebih ringan daripada urusannya sampai ke tangan polisi.

Dingin-dingin nggak apa, daripada pantat pedes kena cambuk. (JPNN/Gunarso TS)
 
Source : POSKOTAnews.com

============================

Produk CNI adalah “Produk Kualitas Menengah Atas, Harga Menengah Bawah”    

Untuk info & Pemesanan :  
HUB : MUHAMAD IPANGO  
Telp / Hp : 021-7816369 / 0815 2363 9145 / 0816 160 5367


  Kunjungi kami di :
TOKO SEHAT ONLINE

Sabtu, 05 Januari 2013

Debut Asmara Juragan Sepatu

Debut Asmara Juragan Sepatu
SEBAGAI pengusaha sepatu, Halim, 36 (bukan nama sebenarnya), tak hanya tahu ukuran sepatu orang. Bahkan, dari bentuk kaki dan cara berjalan seseorang, dia bisa pula memprediksi kelakuan pemiliknya. Nah, ketika melihat Ny. Hartatik, 32 (bukan nama sebenarnya), tetangga sendiri suka berjalan jinjit, langsung saja diselingkuhi dengan gegap gempita.

Perempuan suka sepatu jinjit, karena itu konon bisa ikut membentuk kaki menjadi lebih bagus, mbunting padi misalnya. Tapi bagi “psikolog” amatiran Halim, yang sehari-harinya sebagai pengusaha sepatu, wanita yang suka berjalan jinjit justru bisa bermakna lain. Katanya, perempuan suka berjalan jinjit, itu menandakan bahwa dia berjiwa penuh kehatia-hatian. Kehati-hatian yang bagaimana? Ya karena takut ulahnya: Oo, oo……  ketahuan ………..

Ny. Hartatik warga Desa Jampirogo Kecamatan Sooka Kabupaten Mojokerto, belakangan suka berjalan jinjit. Keluar dari rumahnya malam-malam, lalu berjalan jinjit sambil mengendap-endap, langsung masuk ke rumah tetangga tak jauh dari rumahnya. Satu jam kemudian, dia keluar dari rumah itu sambil berjalan jinjit pula. Tapi dari wajahnya nampak ada rasa puas dan kebahagiaan, karena habis entuk-entukan!

Halim juragan sepatu dari Desa Jampirogo, tahu persis segala gerakan wanita itu. Soalnya, Ny. Hartatik tersebut berjingkat-jingkat seperti itu justru dalam rangka masuk ke dalam rumah Halim sendiri. Ketika wanita itu sudah berada di dalam, pintu segera dikunci kuat-kuat, dan keduanya pun segera pesta dalam asmara pria – wanita. Satu jam kemudian,  ketika Hartatik sudah memperoleh segalanya, dia pulang ke rumah sambil menerima pemberian uang dari Halim. Langkahnya tak berubah, jinjit dan berjingkat, karena takut ketahuan suami.

Ya, Hartatik memang punya suami, Wagiman, 40 (bukan nama sebenarnya). Kebetulan suaminya tersebut anak buah atau karyawan Halim dalam berbisnis sepatu. Tapi karena penghasilan tak memadai, Hartatik suka menerima bantuan ekonomi dari Halim yang bos suaminya. Namun sebagai pebisnis, mana mau pengusaha ini jadi Departemen Sosial. Jadi, kalau ada bantuan materil, juga harus dibalas dengan onderdil!

Istri Wagiman ini memang lumayan cantik, putih dan berbetis mbunting padi pula. Sebetulnya sudah lama Halim naksir wanita itu, tapi sayang milik anak buah sendiri. Masak, bos kok nglungsur (menggantikan) bekas anah buah? Apa kata orang nanti? Maka walaupun nafsu, ya nggak boleh kesusu. Prinsipnya, jikalau memang milik, pasti ada jalan keluarnya. “Kalau ukurannya pas, pasti masuk kakiku juga,” kata Halim berdasarkan kacamata profesi.

Memangnya Halim belum punya istri, sehingga jadi lelaki subita (suka bini tetangga)? Ada memang, tapi dulu. Gara-gara suami suka main perempuan, sang nyonya memang langsung minta cerai. Nah, dalam kapastitas sebagai duda itu pula, kini Halim berusaha menelateni istri tetangga sendiri.

Hartatik yang selalu kesulitan ekonomi, secara berkala suka ngutang duit pada juragan sepatu itu. Halim senang-senang saja membantu, karena memang ada tujuan politik tertentu. Sekian kali dibantu dan tak pernah mau dikembalikan, sungguh Hartatik lama-lama merasa berutang budi. Maka ketika kemudian Halim minta dilayani bak suami istri, dia tak bisa berkutik. Akhirnya, Hartatik pun bertekuk lutut dan berbuka paha demi membalas budi itu dengan bodi.

Nah, di kala bentuk kaki Hartatik semakin bagus karena kebanyakan dibuat jinjit ke rumah sang juragan, warga mulai mencurigai ulahnya. Maka, beberapa malam lalu, ketika istri Wagiman ini menjalani sistem “jemput bola” ke rumah Halim, penggerebekan segera dilakukan. Mereka tak bisa berkutik, karena tertangkap basah dalam kondisi bugil dalam kamar. Malam itu juga disidangkan di balai desa, dengan keputusan Wagiman siap menceraikan istri untuk dinikahi bos sendiri.

Bagaimana Lim, ukurannya pas? Jangan sampai lecet lho…! (TJ/Gunarso TS)


Source : POSKOTAnews.com

============================

Produk CNI adalah “Produk Kualitas Menengah Atas, Harga Menengah Bawah”    

Untuk info & Pemesanan :  
HUB : MUHAMAD IPANGO  
Telp / Hp : 021-7816369 / 0815 2363 9145 / 0816 160 5367


  Kunjungi kami di :
TOKO SEHAT ONLINE

Jumat, 04 Januari 2013

Gendong Anak Apa WIL

Gendong Anak Apa WIL
Hidup Subianto, 30 (bukan nama sebenarnya), benar-benar bak lebai malang. Sementara istri tercinta jadi TKI di Singapura, WIL-nya juga pergi ke Jakarta mencari kerja. Lalu dia di Cilacap suruh ngapain? Momong bayi yang ditinggalkan istri? Ogah! Enakan “gendong” WIL daripada gendong bayi. Tapi WIL yang mana pula? Stress memikirkan dirinya yang kesepian, Subianto nekad gantung diri bersama bayinya.
 
Bagi pria dewasa, istri tak ubahnya air bagi ikan. Ikan bisa mati tanpa air. Begitu pula lelaki, tanpa istri bisa mati kedinginan. Maka sejak wanita banyak diekspor jadi babu oleh rintisan Menaker Sudomo di tahun 1983, banyak lelaki yang “tabrak sana tabrak sini” karena tak tahan mati kedinginan. Maka meskipun TKI/TKW digelari pahlawan devisa, sebetulnya di sisi lain banyak suami di tanah air yang mengalami devisit moral.

Sampel terakhir mungkin Subianto dari Desa Karangtengah, Kecamatan Sampang, Kabupaten Cilacap (Jateng). Di kala usia demikian muda dan enerjik, dia harus dipisahkan dari istri, gara-gara memburu dollar Singapura. Paling celaka, di rumah dia dibebani tugas baru sebagai “baby siter”, karena saat sang istri berangkat ke Negeri Singa ninggal bayi usia 1 bulan. Dan ini pula yang selalu dipertanyakannya, seperti apa sistem rekrutmen TKI/TKW ini? Masa iya sih, wanita ninggal bayi merah diberangkatkan juga.

Ya, sejak istri jadi TKI, Subianto benar-benar jadi “baby siter” tanpa bayaran. Mandikan bayi, menyuapi makan, ganti popok dan menggendong ke sana kemari; itu sudah menjadi rutinitas sehari-hari. Bila si Upik menangis, Subianto pun langsung menghibur dengan lagu-lagu yang diketahuinya. “Timang timang, anakku sayang, buah hati ayah ‘nda seorang, jangan marah dan jangan merajuk sayang, jikalau bapak kesal kamu kutendang………..”

Dua bulan jadi “baby siter” amatiran, Subianto kenal cewek baru, namanya Narti. Dia masih tetangga desa juga. Dia begitu perhatian pada si bayi, sehingga sering pula dia membantu momong. Bahkan ketika hubungan itu sudah semakin akrab, Subianto yang kesepian mencoba gantian menggendong bayi Narti kelahiran 23 tahun lalu. Ternyata yang “digendong” tak keberatan juga, sehingga Subianto pun semakin mbagusi macam Mbah Surip almarhum. “Tak gendong ke mana-mana, tak gendong ke mana-mana, I love you full…..,” ujar Subianto yang sudah beberapa kali “nggendong” Sunarti.

Ketika Narti sudah menjadi WIL-nya, hidup Subianto tak merasa kesepian lagi. Tapi dasar nasib, baru sebulan bertabur asmara, mendadak Sunarti pamitan bahwa dapat pekerjaan baru di Jakarta. Ingin sebetulnya Subianto melarang, tapi tak kuasa. Maka ketika sang WIL benar-benar meninggalkannya, dia hanya bisa berurai air mata. Inilah patah hati kali pertama sepanjang hidupnya.

Seminggu ditinggal WIL, dan kini harus bergelut jadi “baby siter” kembali, sungguh membuat diri Subianto stress berkepanjangan. Kenapa Tuhan menciptakan dirinya jadi “lebai malang”? Ingin dia bunuh diri, tapi anak semata wayangnya siapa yang ngurus? Pusing tak memperoleh solusi, akhirnya Subianto memilih menggantung si Upik di kamar. Habis itu dia menyusul gantung diri pula di sampingnya. Jadilah ayah dan anak kompak kembali ke alam baka. Tinggalah keluarga Subianto yang kelabakan dibuatnya.

Dimakamkan satu liang lahat, nggak? (HS/Gunarso TS)


Source : POSKOTAnews.com

============================

Produk CNI adalah “Produk Kualitas Menengah Atas, Harga Menengah Bawah”    

Untuk info & Pemesanan :  
HUB : MUHAMAD IPANGO  
Telp / Hp : 021-7816369 / 0815 2363 9145 / 0816 160 5367


  Kunjungi kami di :
TOKO SEHAT ONLINE

Kamis, 03 Januari 2013

Istri “Tempur” Sendiri

Istri “Tempur” Sendiri
SUNGGUH  keterlaluan Jamilah, 27 (bukan nama sebenarnya), ini. Ditinggal suami ke rumah orangtua di Tempursari (Lumajang), eh di rumah malah “tempur” sendiri bersama PIL-nya. Namun sial nasib Kamilan, 26 (bukan nama sebenarnya), sebagai penjahat kelamin. Saat mandi bersama dengan gendakan, kepergok suami Jamilah. Kontan tangannya dibabat clurit hingga putus.

Pengangguran itu jadi bantalnya setan, begitu kata orangtua. Tak meleset memang. Sebab di kala orang bengong sendiri dengan perut kosong, ide-ide ngaco sering dihembuskan setan. Tapi, pengangguran juga sering mengancam kelestarian sebuah rumah tangga. Gara-gara suami hanya mampu masok onderdil bukan materil, banyak istri yang kemudian tergoda iman, lalu “si imin” lelaki lain masuk dan mengacak-acak bahtera keluarganya.

Jamilah warga kota Lumajang, ingin memiliki suami yang perkasa di segala bidang. Perkasa di atas ranjang, juga perkasa mencari peluang. Maksudnya, ketika terkena PHK dari kantornya, segera mencari peluang bekerja di perusahaan lain. Tapi yang terjadi, setelah kena PHK Mursid, 30 (bukan nama sebenarnya), malah asyik dengan kepenganggurannya. Malas cari pekerjaan, ekonomi keluarganya lalu mengandalkan dana talangan dari orangtuanya di Desa dan Kecamatan Tempursari.

Sebagai istri, tentu saja Jamilah malu punya suami jadi benalu keluarga. Dia sudah mendorong agar cari gebrakan baru, kerja apa saja kek. Tapi jawab Mursid, memangnya cari kerja itu gampang? Bahkan katanya, selagi orangtuanya masih mampu membiayai, jangan terlalu dipikirkan. ”Kamu jadi perempuan tahunya mamah dan mlumah sajalah…..,” kata Mursid selalu.

Wah, sejak itu popularitas Mursid menjadi makin merosot di mata Jamilah. Jika disurvei LSI (Lembaga Survei Indonesia) misalnya, dulu waktu pacaran 100 persen, karena membangun citra terus. Setelah menikah tinggal 80 persen, setelah punya anak turun lagi tinggal 75 persen. Tapi gara-gara gak mau cari kerja, tinggalah 50 persen. Sejak itu juga Jamilah berpikir mau menjalin koalisi dengan lelaki lain, barangkali bisa jadi mitra koalisi permanen, paling tidak sampai tahun 2014 besok.

Pria mitra koalisi baru itu adalah Kamilan, tetangganya sendiri. Karena Jamilah ini cukup cantik dan seksi, Kamilan mau saja jadi “cemilan” bini tetangga. Dan itulah memang yang terjadi. Di kala suami pergi ke rumah orangtuanya di Tempursari, Kamilan diajak Jamilah “bertempur” di dalam kamar. Selesai bersetubuh sebagaimana layaknya suami istri, keduanya lalu mandi bersama tanpa ragu. Saling gosok, saling guyur, pendek kata macam iklan sabun Lifebuoy.

Nah, beberapa hari lalu  Mursid dari rumah orangtuanya menelpon sang istri. Tapi tak diangkat karena sedang “ketanggungan” bersama Kamilan. Takut ada apa-apa, pria pengangguran ini bergegas pulang ke rumah. Alangkah kagetnya dia, karena di rumah mendapatkan Jamilah istrinya sedang mandi bugil bersama Kamilan tetangganya. Dari situ sudah bisa dibaca, apa saja yang terjadi selama ini. Tak terima istri yang telah memberinya satu anak ini dicemplak lelaki lain, langsung saja dia ambil clurit. Begitu Kamilan keluar dari kamar mandi, langsung dibabat tangannya hingga putus. Sementara PIL istrinya masuk rumahsakit, Mursid ditangkap polisi setelah sempat buron ke Blitar.

Ini semua garagara istri tangkap “burung” tetangga.
 (DS/Gunarso TS)


Source : POSKOTAnews.com

============================

Produk CNI adalah “Produk Kualitas Menengah Atas, Harga Menengah Bawah”    

Untuk info & Pemesanan :  
HUB : MUHAMAD IPANGO  
Telp / Hp : 021-7816369 / 0815 2363 9145 / 0816 160 5367


  Kunjungi kami di :
TOKO SEHAT ONLINE

Rabu, 02 Januari 2013

Ternyata Malah Nambah

Ternyata Malah Nambah
Kasihan sungguh nasib gadis Zulaikha, 19 (bukan nama sebenarnya). Digauli paksa sekali saja sakitnya bukan main, eh pak guru Subron, 42 (bukan nama sebenarnya),  malam-malem telepon ngajak ketemu. Dikiranya mau minta maaf, eh……malah minta nambah! Jadilah dia diperkosa dua kali oleh guru ngajinya dalam seminggu.
 
Untuk sekian kalinya terbukti bahwa guru ngaji belum tentu imannya tahan uji. Padahal mustinya, sebagai ustadz dia lebih tahu mana jalan ke surga dan mana pula jalan ke neraka. Tapi ketika sang ustadz ketemu setan anggota Satgas Penggoda Iman, dia jadi lupa segalanya. Hanya karena mengejar “surga dunia” banyak yang kemudian melupakan surga di alam sana. Pak ustadz lupa bahwa hidup di dunia itu hanya sekedar “mampir ngombe” kata orang Jawa.

Adalah Subron, guru ngaji di sebuah pesantren di Sungai Cina, kota Ketapang, Kalimantan Barat. Dia memiliki sejumlah santri wanita, yang rata-rata cantik ala Zaskia Meka pesinetron Para Pencari Tuhan. Nah, salah satu muridnya yang bernama Zulaikha, kebetulan berwajah cantik luar biasa. Sesuai namanya, mungkin dia mirip Siti Zulaikha istri Perdana Mentri Mesir yang jatuh hati pada Nabi Jusuf. Karena kecantikan muridnya itulah, pendulum ustadz Subron langsung kontak, blip….blip……

Sesungguhnya ada pertentangan batin dalam dirinya, antara komisi hati nurani dan komisi setan. Komisi hati nurani dalam RDP (Rapat Dengar Pendapat) mengajak Subron melupakan gadis itu, karena sudah memiliki istri dan anak. Taruhlah istri rela dimadu. Tapi dengan kondisi ekonomi ustadz yang biasa-biasa saja, berpoligami sama saja menambah masalah. “Poligami harus kuat materil, bukan saja onderdil,” kata komisi hati nurani.

Tapi komisi setan dengan juru bicaranya Dahri Hambyah menentang keras argumen komisi hati nurani. Katanya, mengaitkan materil dan onderdil untuk poligami, itu sama sekali tak ada relevansinya. Alasannya, keinginan poligami mayoritas atas dasar dorongan nafsu. Padahal bila bicara soal nafsu, orang tak pernah mengukur diri dengan kemampuan ekonomi. Biar melarat, yang penting nikmat. Tapi jika kemudian Sdr. Subron ragu untuk poligami, komisi setan menganjurkan untuk selingkuh saja!

Gara-gara solusi gila komisi setan, komisi hati nurani memilih walk out. Dan kemudian ditetapkanlah, selaku mandataris setan Subron bermaksud menyelingkuhi Zulaikha murid santrinya. Jika kemudian si gadis nan jelita itu menolak juga, lagi-lagi setan memberikan disposisi: ole-ole kota raja, kalau nggak boleh ya diperkosa saja!

Sejak itu ustadz Subron tak bisa lagi konsentrasi mengajar. Karena pikirannya penuh dengan strategi bagaimana Zulaikha siap bertekuk lutut dan berbuka paha untuknya. Di kala jauh dari teman-teman yang lain, pak guru mulai cengengas-cengenges mendekati. Tapi Zulaikha memang acuh saja, karena sama sekali tak memahami aspirasi urusan bawah guru ngajinya. Lama-lama setan yang mengendors tekad Subron sampai mengancam, sudah 100 hari kerja menjadi pemegang mandataris setan, kok hasilnya nol. “Ente jangan sibuk membangun citra ya?” tegur setan kesal.

Yakin bahwa Zulaikha tak meladeni nafsunya, Subron yang sudah terbelenggu setan jadi benar-benar nekad. Dalam sebuah kesempatan, murid santri itu diperkosa, wush wush! Lho, kok uenak tenan? Maka lain hari lagi tengah malam, dia SMS Zulaikha agar menemuinya di WC umum. Dikiranya Pak Guru mau minta maaf, meski sudah pukul 24.00 dia nekad datang juga menemuinya. Padahal, bukan minta maaf atas semua salah, justru malah. Sambil berdiri, untuk kedua kalinya Subron menggagahi muridnya.

Pulanglah Zulaikha dengan termehek-mehek. Gila nggak, luka tembak yang kemarin saja belum sembuh, sudah ditembak lagi, kok seperti Muamar Khadafi saja. Maka sesampainya di rumah dia segera mengadu pada orangtuanya, tentang segala kelakuan buruk guru ngajinya. Maka malam itu juga oknum ustadz ini dilaporkan ke Polsek Ketapang dan langsung ditangkap. Ironisnya, dalam pemeriksaan Subron membantah telah memperkosa santrinya.

Lalu, malem-malem di WC bersama santri, mau ngapain? 
(JPNN/Gunarso TS)


Source : POSKOTAnews.com

============================

Produk CNI adalah “Produk Kualitas Menengah Atas, Harga Menengah Bawah”    

Untuk info & Pemesanan :  
HUB : MUHAMAD IPANGO  
Telp / Hp : 021-7816369 / 0815 2363 9145 / 0816 160 5367


  Kunjungi kami di :
TOKO SEHAT ONLINE

Selasa, 01 Januari 2013

Jururawat Rindu Injeksi

Jururawat Rindu Injeksi
Sebagai jururawat muda nan cantik, ditinggal mati suami 2 tahun lalu sungguh kesepian. Maka ketika seorang pemuda siap memberikan “injeksi” pengobat rindu, langsung saja Ny. Siti Maryati, 27 (bukan nama sebenarnya), bertekuk lutut dan berbuka paha. Padahal, baru beberapa kali menikmati asyiknya hubungan terlarang, sudah digerebek warga.
 
Siapapun takkan siap menjadi janda di kala usia perkawinan masih sangat muda. Tapi jika garis Allah Swt memang demikian, ummat tak bisa berkelit. Maka tak mengherankan, baru menikah 2-3 tahun, mendadak bercerai akibat kematian suami. Jadilah wanita itu menyandang predikat janda. Dalam kondisi itu, dia bukan saja kehilangan cinta suami, tapi juga kehilangan pula sumber penghidupan yang selama ini sangat diandalkan.

Siti Maryati warga Desa Talkadang, Kecamatan Kota, Situbondo (Jatim), termasuk wanita bernasib malang itu. Sudah dua tahun ini dia menyandang status janda, akibat ditinggal mati muda suami. Untungnya, dia punya ijazah keperawatan, sehingga meski masih tenaga honorer bisa dipekerjakan di Puskesmas Arjasa. Sesuai namanya, dia membantu pekerjaan dokter, termasuk menyuntik pasien.

Soal nafkah sehari-hari Siti Maryati memang tak menjadi masalah. Yang menjadi persolan, adalah nafkah di bawah perut. Biasanya seminggu minimal dipasok 2 kali, kini hampir 2 tahun ngaplo (bengong). Bagaimana solusinya? Sungguh ironis memang, tiap hari dia menginjeksi pasien, tapi dia sendiri sudah lama tak pernah “diinjeksi”. Andaikan ayam, pasti sudah kelabakan ke sana kemari, terbang ke meja, pindah lagi ke almari. Petok, petok, petok…….

Siti Maryati sangat sadar akan kelebihan pisiknya. Maka ketika dia kenal dengan  Heru, 25 (bukan nama sebenarnya), warga Kelurahan Dawuhan, dia mengarahkan agar pemuda itu mau mengisi hari-hari sepinya. Sekali waktu anak muda itu bercerita bahwa pernah naik pesawat Citilink milik Garuda dari Surabaya ke Jakarta. Dengan cepat jururawat kesepian itu menukas. “Enakan  naik Siti Maryati….,” bisiknya sambil mencubit Heru.

Haaa? Sebagai anak muda yang belum berpengalaman, ditawari soal begituan, tentu saja ingin menjajal, apa lagi Siti Maryati ini juga cukup cantik. Maka sejak itu Heru sering main ke rumah si janda hingga larut malam. Seperti tawaran tuan rumah, Heru memang diminta memuaskan libidonya yang selama ini terhambat. Dan benar kata Siti Maryati, naik Citilink tak ada apa-apanya dibanding yang beginian.

Entah berapa kali Heru melayani kebutuhan biologis si janda, lama-lama tercium warga. Penduduk tentu saja tak mau kampungnya dijadikan arena mesum, sehingga pasangan dimabuk asmara itu digerebek. Keduanya lalu disidangkan di balai desa. Keputusannya, daripada menjadi ajang zina berkelanjuytan, keduanya harus menikah. “Saya memang mencintai Siti, maka tak keberatan. Tapi saya mau ijin orangtua dulu,” kata Heru.

Yaah, minta dilamarkan dan dibayari maharnya, kan? (ZB/Gunarso TS)


Source : POSKOTAnews.com

============================

Produk CNI adalah “Produk Kualitas Menengah Atas, Harga Menengah Bawah”    

Untuk info & Pemesanan :  
HUB : MUHAMAD IPANGO  
Telp / Hp : 021-7816369 / 0815 2363 9145 / 0816 160 5367


  Kunjungi kami di :
TOKO SEHAT ONLINE